nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

50% Generasi Milenial Resign Gara-Gara Kesehatan Mental

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 17:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 08 320 2114247 50-generasi-milenial-resign-gara-gara-kesehatan-mental-TN9VHikjJP.jpeg Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Generasi milenial selalu melibatkan kesehatan mental ke dalam tempat kerjanya. Bahkan, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Mind Share Partners, SAP, dan Qualtrics yang diterbitkan di Harvard Business Review, 50% milenial dan 75% generasi Z telah meninggalkan pekerjaan karena alasan kesehatan mental.

Penelitian ini merupakan hasil survei terhadap 1.500 responden berusia 16 tahun atau lebih yang bekerja full time di Amerika Serikat.

Baca Juga: 5 Jawaban Pintar saat Interview Agar Diterima Kerja                                             

Secara signifikan, itu lebih tinggi daripada persentase keseluruhan responden yang telah meninggalkan pekerjaan karena alasan kesehatan mental (20%). Ini menunjukkan pergeseran kesadaran generasi.

Pergeseran itu tidak mengejutkan, mengingat bahwa milenial juga dikenal sebagai 'generasi terapi'. Mereka sadar akan kesehatan mental mereka dan membantu mendestigmatisasi terapi.

Milenial melihat terapi sebagai bentuk perbaikan diri. Namun, mereka juga menderita keinginan untuk selalu menjadi sempurna, inilah yang membuat mereka mencari bantuan ketika mereka merasa belum memenuhi harapan mereka.

stres

Tetapi, usut punya usut, kecenderungan mereka terhadap terapi juga menyoroti beberapa masalah terbesar yang mengganggu generasi ini. Dilansir dari Business Insider, Selasa (8/10/2019), berikut beberapa masalah besar yang melanda generasi milenial.

1. Depresi dan “kematian putus asa” menjadi lebih umum di kalangan milenial.

Depresi sedang meningkat di kalangan milenial, menurut laporan Blue Cross Blue Shield, sejak 2013, ada peningkatan dalam diagnosis depresi yaitu sekitar 47%. Dan penelitian lanjutan Blue Cross Blue Shield menemukan bahwa kondisi kesehatan generasi millenial kurang sehat dibandingkan Generasi X pada usia mereka. Dan seiring bertambahnya usia, kesehatan mereka juga terus berkurang.

Selain itu, banyak milenial yang sudah mencapai fase 'kematian putus asa'. Kematian ini biasanya disebabkan oleh narkoba, alkohol, dan bunuh diri. Meskipun kematian jenis ini telah meningkat di semua usia dalam 10 tahun terakhir, namun tetap saja remaja di Amerika yang paling sering mengalami ini. Pasalnya, 36 ribu milenial di Amerika merasakannya, terutama karena overdosis obat.

Ada beberapa alasan di balik peningkatan itu, salah satunya adalah banyak masalah keuangan yang dihadapi milenial. Contohnya adalah utang pinjaman siswa, layanan kesehatan, perawatan anak, dan pasar perumahan yang mahal.

Baca Juga: 7 Cara agar Hidup Lebih Bahagia di Tempat Kerja

2. Kelelahan juga merupakan masalah

Kasus-kasus kelelahan juga meningkat selama beberapa tahun terakhir ini. World Health Organization (WHO) baru-baru ini mengklasifikasikan kelelahan sebagai suatu sindrom, yang secara medis kondisi tersebut disahkan untuk pertama kalinya.

Ini adalah masalah yang berkembang di tempat kerja saat ini. Sebab, tren seperti meningkatnya beban kerja, staf dan sumber daya yang terbatas, hingga kerja selama berjam-jam sedang menjamur. Inilah kondisi yang milenial anggap kenapa diri mereka adalah 'generasi yang kelelahan'.

stres

Faktanya, 86% persen responden dalam studi Mind Share Partners, SAP, dan Qualtrics mengatakan perusahaan juga harus mendukung kesehatan mental para pekerjanya. “Kesehatan mental menjadi perbatasan keanekaragaman dan inklusi berikutnya, dan karyawan ingin perusahaan mereka mengatasinya,” tulis para penulis.

"Tidak mengherankan jika memberi karyawan dukungan yang mereka butuhkan. Tidak hanya dengan meningkatkan keterlibatan, tetapi juga rekrutmen dan retensi, dibandingkan tidak melakukan apa pun," tambah mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini