nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sederet Fakta Minyak Goreng Curah Tak Jadi Dilarang, Kesehatan Jadi Taruhan?

Feby Novalius, Jurnalis · Minggu 13 Oktober 2019 07:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 11 320 2115694 sedert-fakta-minyak-goreng-curah-tak-jadi-dilarang-kesehatan-jadi-taruhan-BjchzoqxNl.jpeg Minyak Goreng Curah Wajib Pakai Kemasan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan keberadaan minyak goreng curah di pasaran tidak ditarik. Melainkan per 1 Januari 2020, semua minyak goreng di setiap warung harus menggunakan kemasan.

Hanya saja, kewajiban menggunakan kemasan untuk minyak goreng curah membuat pedagang resah. Seperti pedagang minyak goreng di Kabupaten Pangandaran yang resah karena program wajib kemas minyak goreng dicanangkan pemerintah.

Okezone pun merangkum sejumlah fakta menarik terkait kewajiban kemas minyak goreng curah, Minggu (13/10/2019):

1. Kenapa Minyak Goreng Curah Harus Dikemas

Mendag mengatakan, yang diserukan dari kewajiban kemas pada minyak goreng curah, agar konsumen lebih cerdas memilih minyak goreng yang terjamin kehalalannya, higinietasnya, juga kandungan gizi.

Minyak goreng curah merupakan minyak yang diproduksi oleh produsen minyak goreng yang merupakan turunan dari CPO dan telah melewati proses Refining, Bleaching dan Deodorizing (RBD) di pabrikan. Selama ini pendistribusian minyak goreng tersebut, dilakukan dengan menggunakan mobil tangki yang kemudian dituangkan di drum-drum di pasar.

Minyak Goreng

Proses distribusi minyak goreng curah biasanya menggunakan wadah terbuka. Akibatnya bisa rentan kontaminasi air serta binatang. Sedang penjualannya, ke konsumen, kerap juga menggunakan plastik pembungkus tanpa merk.

2. Alasan Lainnya Adalah

Produksi minyak goreng curah rentan dioplos dengan minyak jelantah. Sementara, tak banyak konsumen yang bisa membedakan minyak goreng curah dari pabrikan, dengan minyak jelantah (minyak goreng bekas pakai) yang dimurnikan warnanya.

"Karena ada risiko-risiko itu, maka kami mendorong agar produsen wajib melakukan pengemasan minyak goreng. Agar masyarakat mendapatkan produk minyak goreng yang higienis serta bebas dari adanya kemungkinan oplosan," ujar Mendag.

3. Ditegaskan Bahwa Minyak Goreng Curah Masih Boleh Dijual

Tidak ada sama sekali maksud pemerintah untuk mematikan industri rakyat, juga usaha kecil dan menengah yang biasa menggunakan minyak goreng curah. Karenanya, harga minyak goreng kemasan dan ketersediaannya dijamin pemerintah, tak memberatkan, dan tak berbeda jauh dengan minyak goreng curah. Kemasan-kemasan ini juga terdiri dari kemasan yang kecil dan ekonomis, hingga yang besar, mulai dari 200 ml sampai 1 liter.

Ditegaskan Enggar, juga tidak akan ada penarikan minyak curah dari pasaran. "Tidak ditarik (keberadaan minyak goreng curah di pasaran). Jadi, pertanggal 1 Januari (2020) harus ada minyak goreng kemasan di setiap warung, juga sampai di pelosok-pelosok desa,” tegasnya.

Minyak Goreng

4. Tanggapan Konsumen

Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menilai kebijakan ini dari aspek keamanan pangan sangat bisa dimengerti. Dia mengamini, secara fisik minyak goreng dalam kemasan lebih aman, kecil potensinya untuk terkontaminasi zat tak layak konsumsi.

Konsumen juga mendapat kepastian siapa yang memproduksinya. Namun, seperti MUI, YLKI juga mewanti-wanti, agar pemerintah menjamin ketersediaan dan harga yang terjangkau.

Dengan konsideran keamanan dan kesehatan pangan, YLKI juga meminta ketegasan pemerintah terhadap produsen untuk menggunakan jenis plastik yang ramah lingkungan/plastik SNI.

5. Dengan Dikemas, Harga Minyak Goreng Curah Naik

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengakui, dengan adanya program wajib kemas minyak goreng maka harga jual akan mengalami kenaikan. Lantaran adanya proses pengemasan, berbeda dengan minyak goreng curah.

"Kenaikan harga pasti ada, tapi hanya harga packaging cost saja. Karena kalau yang curah kan enggak pakai packaging," ujar Airlangga.

6. Pedagang Resah

Salah satu pedagang minyak goreng curah di Pangandaran Yudi Hermawan, 31, mengeluh jika nantinya minyak goreng curah dilarang.

"Kalau sampai Pemerintah melarang penjualan minyak goreng curah, bagaimana nasib kami sebagai pedagang kecil nanti," kata Yudi.

Yudi mengaku mendapat kiriman minyak goreng curah dari pabrikan yang ada di Kabupaten Pangandaran.

"Pengiriman dilakukan setiap Minggu nya dua kali pengiriman sebanyak 5 drum," tambah Yudi.

Yudi menjelaskan, isi satu drum minyak goreng curah rata-rata 180 kilo, artinya satu Minggu kebutuhan minyak curah goreng untuk dijual dirinya sebanyak 900 kilogram.

"Kami keberatan jika Pemerintah tetap mengeluarkan kebijakan larangan penjualan minyak goreng curah, sebab pelanggan minyak goreng curah mayoritas masyarakat ekonomi menengah ke bawah," jelasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini