nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jusuf Kalla: Dulu Energi, Sekarang Pengusaha yang Kaya dari Sektor Teknologi

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 17 Oktober 2019 17:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 17 320 2118256 jusuf-kalla-dulu-energi-sekarang-pengusaha-yang-kaya-dari-sektor-teknologi-SEcdpPCQTo.jpg JK soal Perubahan Ekonomi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini harus bisa dilihat secara keseluruhan. Mulai dari kondisi ekonomi global, efeknya kepada Indonesia, dan hasil akhirnya.

"Jadi, apabila kita berbicara tentang ekonomi Indonesia tentu tidak lengkap kalau kita tidak berbicara ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Kita juga harus melihat apa korelasi sistem ekonomi di dunia kepada Indonesia," ujar JK JK pada kegiatan dialog bersama 100 ekonom di Hotel Westin Jakarta, Kamis (17/10/2019).

 Baca Juga: Akhir Masa Jabatan, Wapres JK Disebut Cekatan Selesaikan Masalah

Menurut dia, sistem ekonomi dunia saat ini mengalami perubahan besar-besaran. Karena, perusahaan raksasa di dunia tak lagi perusahaan yang berkecimpung dalam sektor energi atau perbankan.

"Seperti Saudi Aramco, Exxon, atau pun Citibank. Di mana efeknya kepada kita tentu akan menjadi suatu perubahan di dunia. Teknologi, climate change berubah semuanya. Dulu bisnis atau perusahaan itu enegri, Exxon, Aramco dan sebagainya," ungkap dia.

 Baca Juga: Di Depan 100 Ekonom, Wapres Jusuf Kalla: Ini Pidato Terakhir Saya

 JK

Dia menjelaskan bahwa, saat ini perusahaan-perusahaan raksasa dunia justru yang berkecimpung dalam digital economy seperti Facebook, Apple, Microsoft, Amazon, dan sebagainya.

"Jadi, sekarang pengusaha yang paling besar dan yang paling kaya Microsoft, Apple, Amazon, Facebook. Artinya, energi dikalahkan oleh digital economy," tuturnya.

Maka itu, lanjut dia perkembangan-perkembangan yang terjadi itu, merubah gaya ekonomi dunia dan efeknya kepada Indonesia. Di mana soal konflik di berbagai belahan dunia baik Brexit, perang Dagang AS-China, konflik Korea dan Jepang, dan sebagainya.

"Indonesia yang merupakan negara di Asia Tenggara punya pilihan untuk mengambil keuntungan dalam berbagai konflik tersebut atau justru ikut mengalami kerugian," katanya.

 JK

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini