nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Proyeksi IMF, Perekonomian Turun hingga Perdagangan Global Lesu

Maghfira Nursyabila, Jurnalis · Senin 21 Oktober 2019 08:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 20 20 2119285 proyeksi-imf-perekonomian-turun-hingga-perdagangan-global-lesu-p5xcnzC7x1.jpg Prediksi IMF untuk Ekonomi di 2020. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Dari proyeksi yang dikeluarkan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada Juli lalu, mereka mengoreksi pertumbuhan ekonomi global yang akan muncul sebesar 0,2%.

Dalam October World Economic Outlook, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 2020 menjadi 3,4%, turun 0,2% dari prediksi pada April lalu. Pertumbuhan ini dinilai cukup moderat.

Bahkan, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa pihaknya berharap situasi itu tidak membuat target pertumbuhan ekonomi (PE), Indonesia terkoreksi, paling tidak masih diharapkan di kisaran 5%.

Berikut fakta-fakta Ekonomi terkini dari IMF, Jakarta, Senin (21/10/2019):

1. Perdagangan Global Lesu, Ini Peringatan dari IMF

Perdagangan global meningkat hanya 0,5% pada kuartal pertama 2019. Hal ini membuat Dana Moneter Internasional (IMF) harus memberikan peringatan.

IMF

Mengutip laman antaranews, Jakarta, Rabu (24/7/2019), IMF menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan global tahun ini dan selanjutnya, memperingatkan bahwa lebih banyak tarif-tarif AS-China, tarif mobil atau Brexit yang tidak teratur, lebih jauh dapat memperlambat pertumbuhan, melemahkan investasi, dan mengganggu rantai pasokan.

Kepala ekonom IMF Gita Gopinath mengatakan kepada wartawan di Santiago, Chili, pemberi pinjaman global tidak melihat tanda-tanda resesi, tetapi memang melihat "risiko penurunan yang signifikan" untuk pertumbuhan global ke depan, termasuk meningkatnya perang perdagangan.

Sementara itu, Gian Maria Milesi-Ferretti, wakil direktur departemen penelitian IMF mengatakan tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan China juga memengaruhi rencana investasi, lebih lanjut mengurangi prospek.

2. IMF Proyeksi Ekonomi Global 2019 di 3%, Paling Lambat Sejak Krisis 2008-2009

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dari proyeksi yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dengan revisi tersebut, maka diperkirakan ekonomi global hanya mampu tumbuh 3% di tahun 2019.

"Laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis keuangan global pada 2008-2009," ujar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangan tertulis.

Pemangkasan proyeksi tersebut telah dilakukan berkali-kali oleh IMF. Pada awal tahun diperkirakan ekonomi global mampu tumbuh 3,5%, kemudian dipangkas pada April 2019 sebesar 3,3% dan pada Juli menjadi 3,2%.

IMF menilai pertumbuhan terus melemah dengan meningkatnya perang dagang dan ketegangan geopolitik di berbagai negara. Bahkan, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina diperkirakan akan secara kumulatif mengurangi tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,8% pada tahun 2020.

3. IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Jadi 5%

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5% di tahun 2019, dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober. Tidak berubah dari proyeksi dalam laporan bulan Juli.

IMF

Meski demikian, prediksi tersebut sudah mengalami revisi sebab pada WEO edisi April, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan capai 5,2%.

Perkiraan pertumbuhan Indonesia yang sebesar 5% tersebut, berada di posisi ketiga di bawah Vietnam yang diproyeksi tumbuh 6,5% dan Filipina yang tumbuh 5,7% di tahun ini.

IMF menyebut perlambatan ekonomi memang tengah terjadi, secara global pertumbuhan diperkirakan hanya 3%. Terkoreksi dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,2%.

4. IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Ini Penjelasan Menko Darmin

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dari proyeksi yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dengan revisi tersebut, maka diperkirakan ekonomi global hanya mampu tumbuh 3% di tahun 2019.

Terkait hal itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa pihaknya berharap situasi itu tidak membuat target pertumbuhan ekonomi (PE), Indonesia terkoreksi, paling tidak masih diharapkan dikisaran 5%.

"Kita tetap berharap PE masih 5% lah, boleh lah ya," ujar dia di kantornya, Jakarta.

Menurut dia, kondisi tersebut memang akan memberi pengaruh buat Indonesia tapi tidak signifikan. Sebab dampak perlambatan ekonomi dunia ke tiap-tiap negara tidak sama, bahkan antara China dan Indonesia pun berbeda.

5. Peluang Investasi di Tengah Perang Dagang

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China berdampak secara signifikan pada kondisi perekonomi global pada umumnya dan Indonesia secara khusus. Pasalnya, perang dagang ini menjadi permasahan mendasar bagi perekonomian di dunia.

Anggota DPR RI Dave Laksono menilai, perang dagang ini merupakan permasalahan mendasar yakni terkait dengan adanya ketidaksetaraan dalam Globalisasi, beberapa persaingan yang tidak fair antara negara kaya ditambah persaingan geo-ekonomi dan politik antara kepemimpinan China dan AS. Selain itu, sistem perdagangan yang berbasis pada aturan saat ini yang sudah tidak memadai lagi dalam menghadapi kebangkitan suatu negara khsususnya pada negara besar seperti China dan Amerika Serikat.

"Kurangnya kebersamaan antar negara dalam globalisasi saat ini membuat dimensi mengenai negara sedikit bergeser yang pada akhirnya mengarah kepada platform politik yang lebih nasionalistis dan proteksionis," ujarnya dalam keterangan tertulis.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini