nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

8 Fakta Erick Thohir Gantikan Rini Soemarno, BUMN Bakal "Dibersihkan"

Delia Citra, Jurnalis · Senin 28 Oktober 2019 06:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 25 320 2121721 fakta-erick-thohir-gantikan-rini-soemarno-bumn-bakal-dibersihkan-Z7Y3jFnCOF.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)

3. Erick Thohir Butuh 3 Wamen di BUMN

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membuka peluang merekrut jabatan wakil menteri. Dirinya memberi sinyal bisa saja ada lebih dari satu wakil menteri yang akan membantu tugasnya di Kementerian BUMN.

Alasanya mengapa ada lebih dari satu wakil menteri karena tugas di Kementerian BUMN cukup berat. Ada banyak sekali perusahaan BUMN yang harus diperhatikan satu per satu.

Ditambah lagi, Presiden Joko Widodo memberikan kebebasan kepada para menteri untuk menunjuk dan memilih jumlah wakil menteirnya masing-masing. Jokowi menawarkan untuk memberikan lima wakil menteri kepada Erick Thohir.

"Ya kalau 142 (perusahaan) bisa dua (Wamen) bisa tiga. Bahkan Pak Presiden bilang kalau perlu lima ya dikasih, tapi kan kita lihat lah. Kan di sini ada juga Pak Sesmen, deputi udah ada tugasnya sinkronisasi," ujarnya.

4. Tugas Pertama Percepat Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Erick Thohir tak mau berleha-leha dan memilih untuk langsung tancap gas. Usai melakukan serah terima jabatan dengan Rini Soemarno, dirinya ingin langsung segera menyelesaikan tugas yang sudah menumpuk.

Salah satu fokusnya adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya, proyek yang sudah tunggu-tunggu oleh masyarakat harus dipercepat pengerjaannya.

“Pasti kan banyak hal-hal yang kita harus segera tuntaskan, misalnya mengenai contoh Kereta Cepat Bandung,” ujarnya.

5. Utang BUMN Numpuk, Bagaimana Erick Thohir?

Erick Thohir buka suara tentang utang perusahaan plat merah yang menggunung. Berdasarkan data pada semester I-2019, utang BUMN mencapai Rp3.776,2 triliun.

Menurut Erick Thohir, masyarakat jangan melihat dari jumlah utangnnya. Akan tetapi, bagaiamana uitang itu bisa digunakan untuk kepentingan yang bermanfaat.

“Saya rasa gini lo. Kita jangan terjebak juga, (berprasangka) utang itu salah,” ujarnya.

Menurut Erick, yang berbahaya dan negatif ketika utang justru dikorupsi. Hal tersebut sangat merugikan, di satu sisi negara tidak menikmati utang tersebut, tetapi malah masih diharuskan untuk membayar.

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini