nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hong Kong dan Singapura Resesi, Dampak Ekonomi ke Indonesia?

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 05 November 2019 15:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 05 20 2126024 hong-kong-dan-singapura-resesi-dampak-ekonomi-ke-indonesia-Bab42GW7H7.jpg Rupiah (Reuters)

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait resesi ekonomi yang dialami Hong Kong hingga Singapura. Banyak yang menduga resesi ekonomi yang terjadi pada dua negara tersebut bisa berpengaruh ke ekonomi Indonesia, karena keduanya memegang peranan penting terhadap perdagangan di Tanah Air.

Menurut Airlangga, resesi ekonomi yang dialami oleh Hong Kong dan Singapura tidak akan berdampak besar pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, resesi kedua negara tersebut dinilai terjadi sebagian besar disebabkan oleh faktor internal.

 Baca juga: Jawa Masih Nikmati Kue Ekonomi Terbesar dari PDB Rp4.067 Triliun

"Ya kalau perekonomian Indonesia kan kita punya domestik market yang cukup bagus. Memang kan selama ini Singapura dan Hongkong sudah slow down. Apalagi Hongkong terkait dengan banyaknya persoalan internal," ujarnya saat ditemui di Kantornya di Jakarta, Selasa (5/11/2019).

 Airlangga

Lagi pula lanjut Airlangga, hubungan perdagangan Hong Kong dan Indonesia selama ini sebagian besar terkait transit perdagangan ke China. Ditambah saat ini Indonesia juga sudah melakukan perdagangan langsung ke China tanpa harus transit.

 Baca juga: Ekonomi RI Baik-Baik Saja, Ini Fakta-faktanya!

"Hong Kong kan transhipment ke China, tapi sekarang fungsinya sudah banyak berubah karena sekarang perdagangan dengan China langsung," ucapnya.

Mantan Menteri Perindustrian ini menambahkan, pemerintah juga kini sudah memiliki strategi untuk menangkal dampak resesi serta menghindar dari resesi. Langkah tersebut adalah terlibat dalam negosiasi pakta perdagangan bebas Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).

"Oleh karena itu kita bahas terkait blok baru yang namanya RCEP. Jadi RCEP ini kan East Asia FTA. Dan ini adalah terbesar dibandingkan seluruh blok perdagangan. Makanya kemarin dalam pembicaraan 15 negara sudah setuju, dan untuk berbasis text tinggal kita legal scrubbing dan India punya waktu untuk berbicara secara internal," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini