nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Memilih Investasi di Pasar Modal

Sabtu 09 November 2019 12:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 09 278 2127733 memilih-investasi-di-pasar-modal-94ESyUB0h3.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Sudahkan Anda menyisihkan uang untuk menabung? Setiap orang yang sudah memiliki penghasilan selayaknya memiliki tabungan untuk membiayai kebutuhan di masa depan. Misalnya, untuk membeli rumah, membiayai uang sekolah anak, beribadah ke tanah suci dan untuk dana pensiun.

Namun, tahukah Anda nilai uang Rp1 juta di tahun ini, kira-kira sama nilainya dengan nominal Rp500 ribu tiga tahun lalu. Saat Anda menabung di bank dengan nominal Rp500 ribu, dengan harapan bisa membeli barang di harga tersebut tiga tahun mendatang, ternyata sudah tidak mencukupi, karena di tahun berikutnya harga sudah berubah. Setiap tahun terjadi peningkatan harga-harga barang dan jasa atau yang disebut dengan inflasi.

Baca juga; Peraturan Perdagangan di Papan Akselerasi, Apa Saja?

Data dari Bank Indonesia menunjukkan, tingkat inflasi selama 5 tahun terakhir (2013-2018) mengalami pasang surut, dengan rata-rata 5%. Inflasi 11 tahun lalu bahkan sempat menyentuh angka 9,8% di tahun 2008. Kenaikan inflasi yang dicatat pemerintah pun hanya berlaku untuk barang-barang kebutuhan pokok. Biaya pendidikan rata-rata naik lebih tinggi, di kisaran 15% per tahun. Properti dan kendaraan naik rata-rata 10% setiap tahun. Barang-barang elektronik bisa naik lebih tinggi. Apalagi jika barang impor yang ikut dipengaruhi selisih kurs rupiah dengan mata uang negara importir.

Nah, bagaimana caranya mengatasi inflasi? Investor pasar modal bisa mengatasinya dengan cara menabung saham, atau berinvestasi di saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan menabung saham, investor memiliki potensi mendapatkan return yang relatif tinggi jika dibandingkan bunga bank. Jika bunga bank rata-rata 2-3% per tahun, menabung saham selama dua dekade terakhir bisa mencatat kenaikan modal rata-rata 20%. Angka tersebut dihitung dari rata-rata pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI.

Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen  

Namun sesuai prinsip investasi, “high risk, high return”, semakin tinggi potensi keuntungan, semakin besar pula risiko investasi. Harga saham bisa turun naik akibat berbagai faktor. Tahun 2018 misalnya, IHSG BEI minus 2,5%. Tahun sebelumnya, 2016 dan 2017 IHSG naik masing-masing 15,32% dan 19,9%. Cara mengurangi risiko adalah dengan berinvestasi saham dalam jangka panjang, yaitu di atas lima tahun.

Jadi, untuk membiayai kebutuhan jangka panjang agar bisa melawan investasi, cara terbaik dengan menabung saham. Sementara untuk kebutuhan jangka pendek atau di bawah lima tahun, bisa memilih menabung di bank yang memberikan imbal hasil yang pasti, dan modal yang ditabung tidak akan berkurang.

Bagaimana cara memilih saham? Ada lebih dari 600 saham yang tercatat di BEI. Investor bisa membeli satu atau beberapa saham sekaligus. Semakin banyak saham yang dimiliki, maka risiko investasi pun lebih tersebar. Tetapi karena pembelian saham relatif membutuhkan modal yang cukup besar, memiliki sekitar 5-10 saham saja sudah bagus. Pembelian saham dihitung dalam satuan lot. Satu lot saham berisi 100 lembar saham.

Harga saham terendah ada di bawah Rp100 per lembar saham. Sementara harga saham tertinggi adalah saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang harganya Rp76.100 per lembar saham, per akhir Oktober 2019. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mencatat harga yang tinggi sebesar Rp47.750 per lembar saham pada waktu yang sama.

Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen

Pilihlah saham-saham yang Anda pahami bisnis utamanya. BEI membagi perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI ke dalam sembilan sektor usaha, dan 99 sub sektor usaha. Pelajari kinerja keuangan perusahaan yang datanya bisa dilihat di website masing-masing perusahaan tercatat, atau dibaca dari laporan analis saham di perusahaan sekuritas.

Sebelum membeli saham, investor harus membuka rekening saham di perusahaan sekuritas. Sama seperti membuka saham di bank, investor bisa memiliki rekening di satu atau di beberapa perusahaan sekuritas. Investor yang telah membuka rekening efek di perusahaan sekuritas, memiliki kartu yang berisi nomor SID (Single Idenfication) dan telah memiliki Rekening Dana Investor (RDI), serta mendepositkan sejumlah dana di RDI sudah bisa mulai berinvestasi saham. (TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini