nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Atasi Diskriminasi Minyak Sawit, Menlu Retno Beberkan Langkah Diplomasi

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 18:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 14 320 2129941 atasi-diskriminasi-minyak-sawit-menlu-retno-beberkan-langkah-diplomasi-375pTDyMTk.jpeg Menteri Luar Negeri Retno (Foto: Okezone.com)

 JAKARTA – Isu diskriminasi terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia menjadi pembahasan pelik dalam beberapa waktu terakhir. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengungkapkan langkah-langkah diplomasi yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala terkait salah satu komoditi strategis Indonesia tersebut.

Berbicara kepada Okezone, Menlu Retno mengatakan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu isu penting dalam diplomasi ekonomi Indonesia. Selain menghasilkan devisa yang besar, bidang kelapa sawit juga menyerap jutaan tenaga kerja, yang sejalan dengan misi cipta lapangan kerja yang diserukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca Juga: Kembali Dipercaya Pimpin Kemlu RI, Menlu Retno Dapat Pesan Khusus dari Presiden Jokowi

“Dengan misi presiden menciptakan lapangan kerja, berarti lapangan kerja yang sudah ada juga harus diamankan, jangan sampai kita menciptakan yang baru yang lama hilang. Maka kewajiban kita untuk mengamankan lapangan kerja yang 16 juta sampai 16,5 juta yang bekerja di lapangan sawit dengan mengawal produknya agar tidak mendapatkan perlakukan diskriminatif dan lain-lain,” jelasnya.

Perlakukan diskriminatif terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia, terutama dari Uni Eropa (UE) telah beberapa kali diangkat ke forum internasional, baik oleh Menlu RI mau pun pejabat terkait lainnya, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menlu Retno

Menlu Retno mengatakan keprihatinan terhadap diskriminasi produk kelapa sawit Indonesia itu juga diangkat melalui ASEAN di mana, negara anggota lainnya, Malaysia, juga merupakan penghasil terbesar kelapa sawit yang mendapat perlakuan serupa dari Uni Eropa.

“Kita terus menyampaikan keprihatinan kita kepada Uni Eropa. ASEAN sudah memiliki sikap mengenai sawit terhadap Uni Eropa. Antara lain hasilnya antara ASEAN dan Uni Eropa sudah disetujui membentuk working group mengenai minyak sawit. Jadi working grup ini sekarang sedang dibahas TOR-nya (term of reference, kerangka acuan-red.) seperti apa. Isu sawit ini akan dibahas dalam konteks ASEAN dan Uni Eropa, ” paparnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa diskriminasi terhadap produk sawit Indonesia juga datang dari negara lain seperti India, yang sempat membedakan tarif untuk minyak sawit Indonesia dengan minyak sawit Malaysia, dua negara bertetangga penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Namun, permasalahan itu telah berhasil diselesaikan melalui jalur diplomasi.

Menlu Retno

“Dengan India kita pernah mengalami perbedaan tarif yang diberikan untuk sawit Malaysia, dan sawit Indonesia. Akhirnya kita bicara dengan India: pertama kenapa sawit itu tarifnya dibedakan dengan vegetable oils yang lain, lalu yang kedua, kenapa sawit Indonesia dibedakan dengan Malaysia.

“Alhamdulillah India mau mendengar, dan akhirnya sekarang tidak ada lagi perbedaan tarif. Jadi tarif yang diberikan kepada sawit dengan vegetable oils lain, Malaysia dengan Indonesia sama,” kata diplomat kelahiran Semarang itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini