nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RI Ingin Saingi Hong Kong Jadi Pengekspor Mutiara Nomor 1 di Dunia

Feby Novalius, Jurnalis · Sabtu 16 November 2019 10:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 16 320 2130654 ri-ingin-saingi-hong-kong-jadi-pengekspor-mutiara-nomor-1-di-dunia-4HEI4M55OW.jpg Peningkatan Ekspor Mutiara RI. (Foto: Okezone.com/KKP)

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong peningkatan ekspor mutiara. Sebagai negara penghasil mutiara, Indonesia saat ini berada di posisi ke-5 negara pengekspor mutiara di dunia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, mutiara merupakan salah satu sumber daya laut Indonesia yang dapat berkontribusi sebagai penghasil devisa negara. Indonesia sendiri juga merupakan negara pengekspor mutiara nomor 5 di dunia meskipun nilai ekspor pada tahun 2018 masih sekitar USD47,27 juta. Posisi Indonesia berada di bawah China (USD56,3 juta), French Polynesia/Tahiti (USD112,88 juta), Jepang (USD 315,28 juta), dan Hong Kong (USD483,3 juta).

Baca Juga: Ekspor Oktober 2019 Naik 5,92% di USD14,93 Miliar

“Kita harapkan ini bisa kita dongkrak. Sekarang Hong Kong nomor satu. Padahal dari informasi yang kita dapat, kita juga mengekspor ke sana. Tapi Hong Kong bisa memposisikan diri sebagai pengekspor atau produsen mutiara terbesar untuk dunia,” jelas Edhy, dalam keterangannya, Sabtu (16/11/2019).

Menteri KKP Edhy Prabowo

Untuk meningkatkan ekspor tersebut, KKP melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) bekerja sama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), Dharma Wanita Persatuan (DWP) KKP, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menyelenggarakan Indonesia Pearl Festival (IPF) ke-8 tahun 2019.

Indonesian South Sea Pearl (ISSP) atau mutiara laut selatan berkontribusi 50% dari produksi South Sea Pearl dunia. ISSP dipanen dari tiram jenis Pinctada maxima, baik diperoleh dari alam maupun hasil budidaya. Sentra pengembangan tiram Pinctada maxima tersebar di beberapa wilayah di Indonesia yaitu Sumatera Barat, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Baca Juga: Mendag Kejar Fasilitas Bea Masuk 0% dari AS Sebelum Akhir Tahun

Direktur Jenderal PDSPKP Agus Suherman menjelaskan, ISSP memiliki keunggulan antara lain berukuran lebih besar antara 9-17 mm dengan warna kilau keperakan dan keemasan sehingga sangat digemari di pasar luar negeri. Selain itu, harga butiran (loose pearl) ISSP sekitar USD16-18 per gram lebih tinggi dibandingkan 3 jenis mutiara lainnya (Freshwater Pearl, Black Pearl, dan Akoya Pearl).

Menurutnya, ISSP umumnya diperdagangkan dalam bentuk loose dan jewelry (perhiasan). Perdagangan mutiara dalam bentuk loose umumnya dilakukan melalui lelang (auction) baik di pasar domestik maupun internasional, utamanya di Jepang, Hong Kong, dan Australia.

“Sebagai salah satu komoditas kelautan unggulan Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang, branding ISSP perlu diupayakan guna meningkatkan minat masyarakat terhadap mutiara. Untuk itu diperlukan promosi untuk mengomunikasikan keunikan dan keunggulannya,” tutur Agus.

Akan tetapi, saat ini keberadaan ISSP mulai tergerus dengan banyaknya impor mutiara air tawar dari Cina. Ketua Asbumi Anthony Tanios mengungkapkan, di Lombok misalnya, banyak sekali beredar mutiara air tawar asal Cina ini dengan harga yang sangat murah. Untuk itu ia menilai, masyarakat perlu diberi edukasi terkait perbedaan ISSP dengan mutiara jenis ini.

Menurut Anthony, peredaran mutiara air tawar dengan harga murah dan kualitas tidak mumpuni ini dapat merusak image Indonesia sebagai penghasil mutiara. Terlebih lagi jika mutiara tersebut dibeli oleh turis yang berkunjung ke Indonesia.

“Festival Mutiara Indonesia ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa mutiara laut selatan dan mutiara air tawar itu memang sangat berbeda,” ungkapnya.

IPF yang akan diselenggarakan di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan pada 21-24 November 2019 ini mengusung tema “The Marvelous Indonesian South Sea Pearl”. Nuansa Provinsi Sulut dan Bunaken sebagai salah satu wilayah potensi budidaya mutiara akan dihadirkan di 32 booth dalam pameran kali ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini