nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri Agus Kuatkan Mitra Bisnis untuk Industri Kakao

Fakhri Rezy, Jurnalis · Minggu 17 November 2019 10:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 17 320 2130899 menteri-agus-kuatkan-mitra-bisnis-untuk-industri-kakao-KKM5jnpTXf.jpg Kakao (Reuters)

JAKARTA - Kementerian Perdagangan mendorong industri dan perdagangan pengolahan kakao dan cokelat. Hal tersebut melalui penguatan jalinan kemitraan industri dan eksportir dengan para petani kakao untuk memperkuat pasokan.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, meningkatkan produksi kakao harus yang berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan. Kemitraan tersebut dapat memperkuat industri pengolahan kakao dan cokelat serta mendorong ekspor produk kakao olahan ke pasar global.

 Baca juga: Produk Kakao Papua Siap Masuk Pasar Amerika

"Indonesia sebagai negara utama penghasil biji kakao dan produk kakao di dunia, sangat berkepentingan atas upaya bersama para pemangku kepentingan dalam merespons isu-isu terkaitindustri kakao, khususnya produksi kakao global yang berkelanjutan," ungkap Mendag Agus dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (17/11/2019).

Cokelat

Menurutnya, salah satu cara menjaga pasokan kakao yang berkelanjutan yaitu dengan meningkatkan produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu perlu kemitraan industri pengolahan kakao dan cokelat dengan eksportir dan petani.

 Baca juga: RI Impor Kakao 200.000 Ton di 2017, Tertinggi Sepanjang Sejarah

"Kemitraan yang terjalin di antara industri, eksportir, dan petani dapat memperkuat industri kakao di dalam negeri dan memajukan para petani kakao sekaligus perekonomian Indonesia,"ungkap Mendag Agus.

Menurut Mendag Agus, saat ini industri pengolahan kakao dan cokelatdiIndonesia menghadapi tantangan kontinuitas pasokan bahan baku biji kakao di dalam negeri yang masih belum mencukupi kebutuhan industri pengolahan kakao dan cokelat.

Untuk memenuhi kapasitas produksinya, industri pengolahan kakao dan cokelat masih mengimpor biji kakao dengan menggunakan berbagai fasilitas kemudahan impor.

Pada 2018, impor biji kakao untuk kebutuhan bahan baku industri Indonesia mencapai 226 ribu ton. Sedangkan pasokan dari dalam negeri hanya mencapai 32,5% dari kebutuhan industri tersebut.

"Kemitraan industri dan eksportir serta petani merupakan salah satu cara menjawab tantangan itu. Para petani kakao berpeluang memberikan kontribusi yang lebih besar lagi,” tegas Mendag Agus.

Mendag juga menyampaikan, Indonesia kini telah bertransformasi dari negara produsen biji kakao nomor empat dunia menjadi negara industri pengolah kakao terbesar ke dua di dunia. Nilai investasipadaindustri ini di tahun 2018 mencapai Rp8,4 triliun. Sementara itu, ekspor produk kakao olahan pada 2018 mencapai USD 1,12 miliar atau sebanyak 325.186 ton. Selain itu, industri ini juga mempekerjakan lebih dari 3.000 orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini