nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dorong Hilirasasi, Presiden Jokowi Pede Masalah Neraca Dagang Bisa Kelar

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 20 November 2019 21:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 20 20 2132437 dorong-hilirasasi-presiden-jokowi-pede-masalah-neraca-dagang-bisa-kelar-3ouv2nr6KL.jpg Jokowi (Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mendorong kepada para pengusaha Batu bara untuk melakukan hilirisasi. Karena menurutnya, hilirisasi adalah kunci untuk menyelesaikan masalah Defisit Neraca Perdagangan dan Defisit Transaksi Berjalan (Current Account Defisit/CAD).

Menurut Jokowi, dengan hilirisasi, produk yang dihasilkan bisa memiliki nilai tambah. Jika suatu produk memiliki nilai tambah, maka pendapatan yang didapat dari ekspor juga akan meningkat.

 Baca juga: Presiden Jokowi Curhat soal Masalah Neraca Dagang Tak Pernah Beres

"Pentingnya hilirasasi. Saya mengajak kita semuanya untuk memulai proses tambang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sehingga negara kita memiliki nilai tambah dan memiliki multiplier effect yang besar lapangan kerja yang dibutuhkan masyarakat," ujarnya dalam acara Indonesia Mining Awards, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

 Jokowi

Menurut Jokowi, dengan hilirisasi bahkan masalah defisit neraca perdagangan dan CAD bisa diselesaikan hanya dalam waktu 3 tahun saja. Itupun baru kontribusi dari satu komoditas yakni nikel.

 Baca juga: Neraca Dagang Oktober Surplus, Menko Airlangga: Tapi Ekspor Nonmigas Turun

Asal tahu saja pemerintah berkomitmen untuk melakukan hilirisasi. Salah satu caranya dengan mensetop sementara ekspor nikel dan menjualnya ke pengolahan nikel di dalam negeri untuk proses hilirisasi..

"3 minggu lalu saya hitung-hitungan kalau semua menuju hilirasi, industrialisai menjadi barang jadi atau setengah jadi, saya yakin problem berpuluh tahun, defisit neraca perdagangan, CAD akan bisa kita selesaikan hanya dalam 3 tahun. itu hanya satu komoditas, nikel," jelasnnya.

 Baca juga: Bagaimana Nasib Neraca Dagang Oktober 2019? Ini Prediksinya

Dirinya pun membayangkan jika seluruh sektor pertambangan melakukan hal yang sama. Maka bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia bisa tumbuh cepat ditengah perlambatan global.

"Belum berbicara masalah timah, batubara, kobalt. Banyak sekali yang bisa kita lakukan dari sana. Dari situlah akan muncul nilai tambah, value edit," ucapnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini