nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

7 BUMN Masih Rugi Meski Sudah Disuntik PMN

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 15:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 02 320 2136982 7-bumn-masih-rugi-meski-sudah-disuntik-pmn-x5DGNAkE1k.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Yohana)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, selama empat tahun terakhir menyuntikkan dana dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN), hingga tahun 2018 tetap terdapat 7 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kinerja keuangannya merugi.

Pemerintah memang tiap tahunnya mengalokasikan dana PNM dalam bentuk tunai maupun non tunai kepada beberapa BUMN yang membutuhkan pendanaan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, tahun 2015 alokasi PNM sebesar Rp65,6 triliun, 2016 sebesar 51,9 triliun, 2017 sebesar Rp9,2 triliun, dan 2018 sebesar Rp3,6 triliun.

Baca Juga: Ketika Komisaris Saling 'Kritik' Krakatau Steel

"Pada tahun 2015 ada 33 BUMN yang menghasilkan laba, tapi 8 rugi. Tahun 2016 jumlahnya tetap, 2017 yang mendapat laba naik jadi 38 dan rugi turun ke 3. Tapi di 2018 turun lagi, yang laba jadi 34 dan rugi jadi 7," ungkap Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Ketujuh BUMN yang masih merugi itu adalah PT Dok Kodja Bahari (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), PT PAL Indonesia (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Pertani (Persero), Perum Bulog dan PT Krakatau Steel (Persero).

sri mulyani

Menurut Sri Mulyani, kinerja keuangan PT Krakatau Steel yang merugi diakibatkan beban keuangan selama konstruksi. Lalu PT PAL merugi karena meningkatnya beban lain-lain hingga 3 kali lipat akibat kerugian nilai tukar dan kerugian entitas asosiasi.

Kemudian Perum Bulog mengalami kerugian karena terdapat kelebihan pengakuan pendapatan atas penyaluran program bansos beras sejahtera (rastra). Sehingga Bulog harus melakukan pembebanan koreksi pendapatan di tahun 2018.

Kerugian juga dialami PT Sang Hyang Seri dan dan PT Pertani karena sebab yang sama, yakni inefisiensi bisnis, beban bunga, dan perubahan kebijakan pemerintah dalam mekanisme pengadaan benih. Sedangkan kerugian PT DI dikarenakan terjadi pembatalan kontrak dan order yang tidak mencapai target, serta PT Dok Kodja Bahari merugi karena beban administrasi dan umum yang terlalu tinggi yakni 58% dari pendapatan.

sri mulyani

Meski demikian, Sri Mulyani menekankan pihaknya tak melihat secara khusus kerugian para BUMN tersebut sebagai beban bagi anggaran. Lantaran, tugas BUMN dinilai memang harus memberikan dampak ekonomi secara makro dan keseluruhan.

Maka menurut Sri Mulyani, kerugian ketujuh BUMN itu masih memberikan nilai tambah bagi ekonomi makro sehingga mendorong ekonomi pembangunan. "Dengan penambahan PMN selama 2015-2018 sebesar Rp130,39 triliun dapat mendanai total proyek senilai Rp356 triliun, sehingga dari setiap Rupiah yang ditanamkan mampu meleverage sebanyak 2,72 kali nilai proyek," jelas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini