nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahas Ekonomi RI, Presiden Jokowi: Masa Kita Masih Impor Petrokimia?

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 15:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 02 320 2136985 bahas-ekonomi-ri-presiden-jokowi-masa-kita-masih-impor-petrokimia-mYhYS5Hg11.jpg Jokowi (Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2019 akan tumbuh 5,04-5,05%. Walaupun begitu dirinya tetap bersyukur akan pencapaian apapun itu dan akan dipertahankan di 2020.

"Kalau kita bandingkan dengan negara lain yang semuanya turun, kita patut bersyukur masih diberi angka pertumbuhan ekonomi di atas 5%," ujarnya di istana kepresidenan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

 Baca juga: 4 Fakta Ekonomi Indonesia bak Film 'Cast Away' Versi Presiden Jokowi

Mengenai target di 2020 bahwa pertumbuhan ekonomi di 5,3%, lanjutnya, tetap perlu menggenjot investasi. "Kalau pertumbuhan investasi itu bisa mengalami kenaikan yang drastis, itu baru kita angka 5,3 akan bisa ketemu," ujarnya.

Menurutnya, investasi itu memang peluang besar tapi tinggal bagaimana penanganan di lapangan terutama mengenai perizinan yang cepat. Saat ini, pemerintah lagi gencar untuk mengatasi mengenai perizinan.

 Baca juga: Instruksi Jokowi, Ekonomi RI Jangan Tertekan Perang Dagang

"Ini sekarang kita list mana daftar perusahaan mana dalam proses perizinan yang terhambat. Satu-sat kita selesaikan, kita ingin detil seperti itu, masalah kedua pembebasan lahan di mana, diselesaikan. Yang pemerintah daerah selesaikan oleh pemda. Yang berkaitan dengan kementerian segera hari ini diselesaikan," ujarnya.

 Jokowi

Dirinya pun menyesalkan bahwa masalah Current Asset Deficit tidak bisa selesai. Apalagi, impor migas yang sangat besar hingga saat ini.

 Baca juga: Targetkan Nilai Perdagangan USD7 Triliun, Ini Pesan Sandiaga Uno

"Padahal kita juga miliki sumur-sumur minyak yang bisa berproduksi ditingkatkan. Yang mestinya produksinya ditingkatkan, Kalau betul-betul kurang baru impor. bukan menggantungkan terus pada impor dan lifting produksi minyak kita turun terus," ujarnya.

Cara lain menaikkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan substitusi impor. Hal ini mengarahkan adanya barang-barang impor yang dapat diproduksi di dalam negeri.

"Contoh tadi minyak dan pembangunan kilang minyaknya, refinerynya. Sudah 30 tahun lebih kita enggak bangun satu kilang pun. Kalau kilang dibangun itu ada turunannya nanti. Petrochemical itu bisa langsung larinya ke mana-mana. masa kita masih impor petrokimia, padahal kesempatan untuk membikin itu terbuka lebar dan tidak dikerjakan. Ini ada apa?" ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini