nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menristek Cek Komersialisasi Pesawat N219 dan Hasil Vaksin Bio Farma

Hairunnisa, Jurnalis · Jum'at 13 Desember 2019 12:26 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 13 320 2141466 menristek-cek-komersialisasi-pesawat-n219-dan-hasil-vaksin-bio-farma-gRaHnS3SZ1.jpg Pesawat N219. (Foto: Okezone.com/PTDI)

JAKARTA - Menteri Riset Teknologi Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengadakan kunjungan ke dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang rutin menghilirisasi hasil inovasi, yaitu PT Bio Farma dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang keduanya terletak di Bandung.

Bambang mengawali kunjungannya dengan mengunjungi Laboratorium Center of Excellence PT Bio Farma yang mengembangkan typhoid conjugate vaccine (TCV) dan rotavirus vaccine untuk diproduksi pada 2020 dan 2021 dan akan diekspor ke negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) serta negara-negara Afrika.

Baca Juga: Erick Thohir Bereskan Bisnis Sampingan BUMN, Bos RNI: Itu Kalau Tak Ada Manfaatnya

"Kami melihat bahwa Bio Farma adalah salah satu industri yang sudah secara intens melakukan hilirisasi hasil penelitian, bersama lembaga penelitian seperti LIPI dan BPPT maupun perguruan tinggi. Bio Farma sudah terlibat langsung dalam ekosistem inovasi di mana Bio Farma berfungsi sebagai pihak dunia usaha yang berupaya agar riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga tadi berujung pada produk yang nantinya dibutuhkan oleh masyarakat," ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/12/2019).

Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro

Adapun produk yang dihasilkan dari kerja sama antara Bio Farma dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN mencakup lain vaksin Erythropoietin atau EPO hasil kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pengembangan vaksin Dengue kerja sama dengan BPPT dan Eijkman, serta HPV (Human Papilloma Virus) untuk kanker serviks hasil kerja sama dengan LIPI dan BPPT.

Baca Juga: Kini Pembentukan Anak Usaha BUMN Harus Seizin Erick Thohir

Bambang Brodjonegoro kemudian mengunjungi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk meninjau proses komersialisasi Pesawat N219.

"Salah satu program N219, semoga menjadi awal yang baik. Gagasan dari awal akhirnya sudah siap di komersialkan. Harapannya ada airline atau perusahaan yang bisa jadikan armadanya," ujar Bambang.

Inovasi lain yang juga ditinjau adalah pesawat tanpa pilot atau drone kelas medium altitude long endurance (MALE), Wulung NW01 - 100 yang dikembangkan PTDI bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Drone Wulung ini dapat dipergunakan untuk mengawasi wilayah darat dari udara tanpa memerlukan bandara.

"Bisa ditawarkan kepada militer, tetapi jika untuk militer terlalu kecil, pemasarannya bisa kepada Polri yang bisa gunakan untuk tugas keamanan. Keberadaan Wulung itu cukup pas karena tidak perlu bandara dan lain-lain," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini