nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Populasi Babi Terancam akibat Kolera, Sumut Berpotensi Rugi Rp4 Triliun

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Jum'at 13 Desember 2019 14:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 13 320 2141496 populasi-babi-terancam-akibat-kolera-sumut-berpotensi-rugi-rp4-triliun-njBOJPGX8b.jpg Babi (Foto: Ist)

MEDAN – Populasi hewan ternak babi di Sumatera Utara, kini kian terancam akibat penyebaran wabah Kolera Babi (Hog Cholera). Berdasarkan catatan Balai Veteriner Medan, jumlah hewan ternak babi yang mati akibat penyakit tersebut hingga saat ini telah mencapai 27 ribu ekor.

Kondisi ini menurut Ekonom Gunawan Bendjamin, menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian Sumatera Utara. Sehingga harus segera ditanggapi secara serius. Karena masalah kematian babi ini sangat erat kaitannya dengan potensi kenaikan harga pangan. Selain itu, angka kematian yang terus mengalami peningkatan tersebut sangat merugikan para peternak babi.

Baca Juga: Ekspor Perternakan RI Tembus Rp30 Triliun, Ini Rinciannya

Terlebih di saat menjelang perayaan Natal tahun ini. Semua peternak babi dirugikan karena penjualan hewan ternak mereka tidak laku di pasaran. Bahkan sekalipun dijual dengan harga yang sangat miring. Kondisi ini sangat mengganggu daya beli peternak babi. Terlebih menjelang perayaan keagamaan besar Natal yang sebentar lagi.

“Jika mengacu kepada data hewan yang mati dari Balai Veteriner Medan, Jumlah sebanyak 27 ribuan babi yang mati telah merugikan peternak babi SUMUT sebesar hampir Rp100 miliar sejauh ini. Dan jika melihat tren kematian yang terus meningkat, maka ancaman kematian populasi babi terbuka lebar. Nah ancaman 1,2 juta populasi babi yang bisa saja mati ini, akan merugikan peternak Sumut sekitar Rp4 triliun nantinya,” sebut Gunawan, Jumat (13/12/2019).

 babi

Untuk itu, menurut Gunawan, pemerintah harus bertindak segera agar kerugian ini tidak meluas. Jadi langkah utama yang bisa dilakukan dengan segera adalah menyelamatkan daya beli peternak babi terlebih dahulu. Mengingat daya beli mereka terpuruk seiring dengan sulitnya mereka menjual hewan ternak tersebut belakangan ini.

“Selanjutnya, kita pikirkan nasib peternak babi selama kandang tidak bisa digunakan untuk beternak. Karena menurut Balai Veteriner, kandang babi harus disterilkan dari virus secepat-cepatnya itu adalah 3 bulan dengan pengawasan ketat, meskipun idealnya (sesuai dengan rekomendasi) itu sekitar 1 tahun,” sebutnya.

Waktu selama itu tentunya membuat peternak akan kehilangan daya belinya. Ini akan memperburuk masalah ekonomi masyarakat khususnya mereka yang beternak babi. Untuk itu, kita mendorong pemerintah agar segera memberikan bantuan kebutuhan pokok dasar peternak, serta mengeluarkan anggaran untuk membatasi ruang gerak penyebaran virus tersebut.

“Untuk menyelamatkan potensi kerugian yang Rp4 triliun tadi. Sebaiknya pemerintah menyiapkan anggaran optimal agar penyebaran virus dan kematian babi bisa dihentikan,” katanya.

Baca Juga: Kesehatan dan Keamanan Hewan Jadi Tantangan Perluas Ekspor Produk Peternakan

Kematian babi belakangan ini juga sangat potensial membuat sejumlah bahan pangan substitusi dari babi seperti daging ayam, telur ayam maupun sapi berpeluang mengalami kenaikan harga. Menjelang perayaan Natal-an Tahun Baru umumnya konsumsi akan protein akan mengalami peningkatan. Dan jika masyarakat yang biasa mengkonsumsi babi mengalihkan ke jenis protein lain, maka ada peluang kenaikan harga daging ayam, telur ayam maupun daging.

“Meskipun Balai Veteriner telah menegaskan bahwa babi yang terserang virus aman dagingnya untuk dikonsumsi manusia. Jadi seharusnya tidak ada kekhawatiran yang berlebihan maupun tidak masuk akal. Untuk itu saya menganjurkan masyarakat agar terus memerangi berita yang tidak benar atau hoaks, karena sangat meresahkan,” tukasnya.

 babi

Masalah serangan virus ke babi ini bukan hanya dialami oleh Sumatera Utara saja. Namun ini merupakan bencana global dimana negara lain pun mengalami hal yang sama. Tetangga kita yang terdekat Thailand juga mengalami masalah serupa.

“Untuk itu segera semua pihak atau stakeholder khususnya pemerintah segera turun tangan untuk membatasi penyebaran virus tersebut, agar tidak memicu multiplier efek lainnya yang bisa saja memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat pada umumnya,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini