Perjalanan Anthony Wood dalam Meraih Keuntungan

Hairunnisa, Jurnalis · Selasa 17 Desember 2019 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 17 320 2142938 perjalanan-anthony-wood-dalam-meraih-keuntungan-hIYnz7k2vl.png Anthony Wood. (Foto: Okezone.com/Forbes)

JAKARTA - Anthony Wood adalah seorang miliarder yang merupakan salah satu pencipta Digital Video Recorder (DVR) pertama. DVR adalah perangkat penyimpan rekaman video CCTV berkualitas tinggi yang memungkinkan pemirsa untuk melewati iklan.

Selain itu, Wood juga pernah bekerja di Netflix, di bawah langsung salah satu pendirinya Reed Hastings. Di tengah-tengah revolusi media streaming saat ini, Woods berperan besar dalam kesuksesb penyedia layanan streaming bernama Roku.

Bisnis asli Roku berawal dari menjual perangkat tv yang berlandasakan internet dengan menyajikan 500.000 film dan episode TV dari Netflix, Disney, dan lainnya. Ini merupakan bagian yang tidak menghasilkan keuntungan.

Baca Juga: Kisah Ren Zhengfei, Sukses Bangun Huawei dengan Modal Rp42 Juta

Lelaki yang sekarang berusia 54 tahun bertaruh bahwa Roku akan dapat beralih dari bisnis perangkat kerasnya ke bisnis perangkat lunak yang lebih menguntungkan, yaitu mengukur jangkauan dan efektivitas iklan pada aplikasi streaming.

"Pengukuran kami sangat tepat, di mana kami dapat memberi tahu perusahaan (pengiklan) bahwa dari semua orang yang melihat salah satu iklan Anda, 5% dari mereka pergi ke situs web Anda dan membeli sesuatu," jelasnya seperti yang dikutip dari Forbes, Selasa (17/12/2019).

Baca Juga: Sarapan dengan Ahok, Hanif Dhakiri: Kenyang, Otak Dapat Asupan Bergizi

Wood mengaku bahwa pengukuran ini dilakukan dengan 11 mitra termasuk Nielsen yang berbasis di New York. Pergeseran perangkat ini pun membuahkan hasil.

Pada 2015, 84% pendapatan Roku berjumlah USD320 juta atau sekitar Rp4,4 triliun (dalam kurs Rp14.000) berasal dari perangkat keras dan 16% yang senilai USD50 juta atau sekitar Rp700 miliar berasal dari iklan dan konten.

Pada Oktober mengumumkan telah mengakuisisi USD150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun dari sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Boston. Perusahaan ini nantinya akan memungkinkan klien untuk merencanakan dan membeli kampanye iklan video.

Rencana Wood untuk melayani pengiklan berasal dari kegagalannya di awal 1990-an. Produk awal, dipasarkan sebagai ReplayTV, dirilis pada tahun 1999 dan harganya sekitar USD1.000 atau sekitar Rp14 juta.

Kesalahan besarnya adalah saat Rival TiVo menjual kotak-kotaknya dengan harga di bawah USD500 atau sekitar Rp7 juta. Kejadian ini mengakibatkan Wood harus menjual ReplayTV pada tahun 2001 kepada perusahaan elektronik yang berbasis di Santa Clara SonicBlue dengan harga USD42 juta atau setara dengan Rp588 juta.

Tanpa gentar, Wood mendirikan Roku pada tahun 2002. Roku menjual set-top box pertamanya pada tahun 2008. Kali ini Wood mempertahankan harga rendah yang dijual dengan harga USD99,99 atau setara dengan Rp1,3 juta. Saat ini perangkat termurahnya dijual dengan harga kurang dari sepertiganya.

Pada 2018, Roku telah meraih pangsa pasar 41% dari perangkat media streaming yang lebih dari Amazon Fire TV, Google Chromecast, dan Apple TV. Agar tetap relevan, mulai tahun 2014 Roku bermitra dengan beberapa perusahaan produksi TV, termasuk TCL dan Hisense China dan Hitachi dan Sanyo Electric dari Jepang, untuk membangun sistem operasinya menjadi perangkat TV.

Kini perangkat lunaknya ada dalam satu dari tiga TV pintar yang paling banyak dijual di AS selama sembilan bulan pertama tahun 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini