nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Memiliki Perusahaan Besar Lewat Investasi Saham

Sabtu 21 Desember 2019 10:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 21 278 2144585 memiliki-perusahaan-besar-lewat-investasi-saham-BoFeBox1lU.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTAInvestasi saham menjadi alternatif investasi yang menarik bagi masyarakat. Selain potensi keuntungan yang besar, apa yang menarik dari investasi saham di pasar modal? Salah satunya, investor saham ikut menjadi pemilik perusahaan yang sahamnya dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setiap pemilik saham perusahaan memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Investor bisa menjadi pemilik saham perusahaan besar misalnya PT Unilever Indonesia (UNVR), yang memproduksi berbagai kebutuhan individu dan keluarga, dengan hanya membeli sahamnya di BEI. Tidak perlu memiliki modal yang besar untuk membangun perusahaan sendiri.

Baca Juga: Kompetisi Trading Saham Milenial 'MNC Nation 2019' Banjir Peserta

Investor saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) misalnya, tanpa harus membangun perusahaan telekomunikasi, bisa ikut menjadi pemilik BUMN ini. Walaupun hanya memiliki satu lot saham misalnya. Berinvestasi di saham berarti ikut memiliki perusahaan tersebut. Investor juga berhak mendapatkan dividen tahunan dari perusahaan yang sahamnya dimiliki. Dividen diambil dari laba bersih perusahaan. Investor saham jangka panjang yang terutama bisa menikmati keuntungan investasi dalam bentuk dividen.

Ketika berinvestasi di saham publik melalui bursa, walau hanya dengan kepemilikan saham yang jumlahnya relatif (sangat) kecil, tidak ada bedanya dengan memiliki usaha sendiri. Artinya, investor saham yang berinvestasi untuk jangka panjang ini bisa berharap memperoleh kenaikan nilai buku dan harga saham yang dimilikinya dalam jangka panjang.

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini 

Namun, tidak semua investor yang berinvestasi di saham perusahaan publik melalui bursa efek, merasa menjadi pemilik perusahaan yang sahamnya mereka beli. Membeli saham melalui perusahaan efek jadi terasa berbeda dengan investor yang memiliki saham secara langsung pada perusahaan-perusahaan swasta. Terlebih lagi jika investor tersebut adalah bagian dari pendiri perusahaan, bahkan ikut mengelola perusahaan tersebut, serta memiliki porsi kepemilikan yang relatif besar.

Menjadi investor pada saham publik melalui bursa, jika tujuannya hanya untuk meraih keuntungan jangka pendek dengan memanfaatkan fluktuasi harga yang terjadi, tidak harus memikirkan bagaimana kinerja perusahaan tersebut. Ada investor yang memilih mendapatkan keuntungan dari capital gain, atau selisih harga saham yang dia beli dan saat dia jual.

Untuk investasi dengan tujuan seperti ini, yang dipentingkan adalah faktor likuiditas saham di pasar, analisa teknikal dari harga yang terbentuk dan informasi atau berita yang akan mengarahkan kepada kemungkinan harga saham, apakah harga akan naik atau justru turun.

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

Investor yang berorientasi jangka pendek, lebih mengutamakan analisa teknikal, dengan tingkat aktivitas transaksi jual dan beli yang relatif tinggi. Sementara investor jangka panjang lebih mengutamakan analisa fundamental serta umumnya meminimalisir aktivitas transaksi.

Investor jangka panjang berinvestasi seolah memiliki usaha sendiri dan akan melakukan analisa tentang jenis usaha beserta potensi pasarnya, posisi perusahaan dalam industri, produk atau jasa yang dijualnya, manajemen perusahaan, kinerja historis dan prospeknya, serta hal lainnya yang perlu dianalisa, sebelum memutuskan untuk membeli. Investor tipe ini merasa menjadi bagian dari pemilik perusahaan. Karena dengan memiliki beberapa lembar saham saja, ikut memiliki perusahaan. (TIM BEI)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini