nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kali Ciliwung Dinormalisasi demi Tangkal Banjir, Ini Faktanya!

Vania Halim, Jurnalis · Sabtu 04 Januari 2020 07:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 03 320 2148936 kali-ciliwung-dinormalisasi-demi-tangkal-banjir-ini-faktanya-k5wKS728C6.jpg Banjir (Okezone)

4. Anies Baswedan Ingin 2 Bendungan untuk Kendalikan Volume Air

Anies mengatakan, Kementerian PUPR sedang menyelesaikan dua bendungan. Kalau dua bendungan itu selesai, maka volume air yang masuk ke pesisir bisa dikendalikan.

“Kalau bisa dikendalikan, insya Allah bisa dikendalikan. Tapi selama kita membiarkan air mengalir begitu saja, selebar apa pun sungainya, maka volume air itu akan luar biasa. Karena makin banyak kawasan yang digunakan untuk perumahan, sehingga air pun mengalir ke sungai," kata dia.

5. Masterplan dari penyelesaian banjir sinkron

Maka itu, dirinya berharap ada langkah cepat penuntasan pengendalian air sebelum masuk kawasan pesisir. Tapi pada fase ini yang penting warga selamat penanganan cepat.

"Setelah itu kita duduk bersama untuk memastikan bahwa master plan dari penyelesaian banjir ini sinkron," pungkas dia.

6. Melanjutkan program normalisasi Ciliwung

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan untuk melanjutkan kembali program normalisasi Sungai Ciliwung. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menanggulangi banjir yang merendam beberapa wilayah Ibu Kota dalam tiga hari terakhir ini.

Seperti diketahui, era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok Pemprov DKI kerap menggalakkan program normalisasi sungai. Namun, seiringnya waktu, setelah Anies didapuk menjadi orang nomor satu di Ibu Kota, ia menghentikan program tersebut.

“Normalisasi harus dilaksanakan harus ditindaklanjuti tidak bisa tertunda tunda lagi,” kata Prasetyo.

7. Belum siap menghadapi Banjir

Menurut Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, peristiwa banjir yang terjadi di Jakarta sekarang ini, karena Pemprov DKI belum siap menghadapi musibah tahunan tersebut. Ia menyebut, itu terbukti ketika dirinya menemukan kejadian berupa beberapa alat pompa air yang tidak berfungsi secara maksimal.

“Saya tadi melihat di Gunung Sahari ada satu pompa yang kebetulan buat nyedot air keluar itu artinya enggak siap padahal itu produk tahun 2019. Nah, hal-hal seperti ini sebetulnya dipersiapkan menjelang (musim hujan-red),” tuturnya.

Prasetyo mengimbau kepada Dinas Sumber Daya Air untuk lebih giat bekerja pada tahun 2020, seperti mengeruk kali dan melakukan pembebasan lahan untuk menormalisasi sungai.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini