nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPK Nyatakan Jiwasraya Rekayasa Laporan Keuangan Sejak 2006

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 17:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 08 20 2150709 bpk-nyatakan-jiwasraya-rekayasa-laporan-keuangan-sejak-2006-lZ4ltOlANs.jpeg BPK Beri Keterangan soal Kasus Jiwasraya (Foto: Okezone.com/Yohana)

JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebut PT Asuransi Jiwasraya (Persero) pernah melakukan rekayasa laporan keuangan sehingga membukukan laba. Padahal, seharusnya membukukan kerugian.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna menjelaskan, BPK telah melakukan dua kali investigasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sepanjang tahun 2010 hingga 2019. Pertama, pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) pada tahun 2016 dan pemeriksaan investigatif pendahuluan pada tahun 2018.

Baca juga: BPK Segera Audit Investigasi Kebobrokan Jiwasraya

Hasil pemeriksaannya, Jiwasraya pernah melakukan modifikasi laporan keuangan pada tahun 2006, yang seharusnya membukukan rugi. Hal ini menunjukkan adanya persoalan tekanan likuiditas di Jiwasraya sudah berlangsung sejak lama.

"Jadi sebenarnya itu laba semu, akibat dari rekayasa akuntansi atau window dressing, di mana sebenarnya perusahaan telah mengalami kerugian," ungkap Agung dalam konferensi pers di Gedung BPK, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

asuransi

Kemudian pada tahun 2017, Jiwasraya juga membukukan laba bersih sebesar Rp360,3 miliar, namun laporan keuangan tersebut memperoleh opini tidak wajar dari BPK. Lantaran adanya kekurangan pencadangan sebesar Rp7,7 triliun, sehingga jika pencadangan dilakukan sesuai ketentuan maka perusahaan seharusnya menderita kerugian.

"Lalu pada tahun 2018 Jiwasraya tercatat membukukan kerugian unaudited sebesar Rp15,3 triliun. Serta hingga akhir September 2019 diperkirakan rugi Rp13,7 triliun," katanya.

Dalam pemeriksaan di tahun 2016, BPK mengungkap 16 temuan terkait dengan pengelolaan bisnis, investasi, pendapatan dan biaya operasional Jiwasraya pada tahun 2014-2015. Temuan tersebut antara lain, investasi pada saham TRIO, SUGI, dan LCGP yang tidak didukung oleh kajian usulan penempatan saham yang memadai.

Selain itu, di tahun yang sama Jiwasraya berpotensi menghadapi risiko gagal bayar atas Transaksi Investasi Pembelian Medium Term Note PT Hanson Internasional (HI). Jiwasraya juga dinilai kurang optimal dalam mengawasi reksadana yang dimiliki dan terdapat penempatan saham secara tidak langsung di satu perusahaan yang berkinerja kurang baik.

Baca juga: Bos OJK Masih Cari Jalan Keluar Selamatkan Jiwasraya

Menindaklanjuti hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu di 2016 tersebut, BPK melakukan pemeriksaan investigatif pendahuluan yang dimulai tahun 2018. Hasil pemeriksaan investigatif menunjukkan adanya penyimpangan-penyimpangan yang berindikasi fraud dalam pengelolaan produk Saving Plan dan investasi.

asuransi

Jiwasraya memang melakukan pemasaran produk Saving Plan dengan biaya bunga (cost of fund) yang sangat tinggi di atas bunga deposito dan obligasi yang dilakukan secara masif sejak 2015. Namun dana hasil penjualan produk tersebut malah diinvestasikan pada instrumen saham dan reksa dana yang berkualitas rendah.

"Sehingga mengakibatkan adanya negatif separated, yang pada akhirnya hal ini mengakibatkan tekanan likuiditas di Jiwasraya, yang berujung pada gagal bayar," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini