nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada 5.000 Transaksi Investasi di Kasus Jiwasraya

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 18:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 08 20 2150756 ada-5-000-transaksi-investasi-di-kasus-jiwasraya-YX4jeJHpk0.jpg Asuransi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebut ada lebih dari 5.000 transaksi investasi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sepanjang tahun 2009-2018. Sejumlah transaksi itu menimbulkan permasalahan tekanan likuditas di Jiwasraya yang berimbas pada kasus gagal bayar.

Sebanyak 5.000 transaksi investasi tersebut mencakup investasi di reksa dana, saham, dan pengalihan pendapatan. Di mana sebagian besar investasi dilakukan pada saham dan reksadana berkualitas rendah.

BPK

Jaksa Agung ST Burhanuddin menyatakan, dalam mengusut tuntas kasus gagal bayar di perusahaan asuransi berpelat merah itu, diperlukan tindakan kehati-hatian karena sangat kompleks.

"Jadi perlu waktu, saya tidak ingin gegabah dan teman-teman di BPK juga sangat membantu kami," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPK, Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Baca Juga: BPK Nyatakan Jiwasraya Rekayasa Laporan Keuangan Sejak 2006

Jiwasraya diketahui menempatkan investasi pada saham sebanyak 22,4% senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 5% dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik (LQ45) dan sebanyak 95% dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk.

asuransi

Kemudian investasi juga dilakukan pada reksadana sebanyak 59,1% senilai Rp14,9 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, sebesar 2% dikelola oleh manager investasi Indonesia dengan kinerja baik (top tier management), sedangkan 98% dikelola oleh manager investasi dengan kinerja buruk.

Baca Juga: BPK: Kasus Jiwasraya Punya Risiko Sistemik

asuransi

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna menambahkan, dengan terjadinya lebih dari 5.000 transaksi menunjukkan kasus Jiwasraya sangat besar atau gigantik. Sehingga permasalahan di perusahaan pelat merah itu berpotensi memiliki dampak sistemik.

Pihaknya pun sedang melakukan audit investigasi guna mengetahui total kerugian negara akibat kasus ini. "Jadi itu sedang kita dalami (transaksi investasi)," katanya dalam kesempatan yang sama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini