nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PNBP Migas Turun Rp27,7 Triliun, Salah Satunya Akibat Blok Mahakam

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 09 Januari 2020 17:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 09 20 2151156 pnbp-migas-turun-rp27-7-triliun-salah-satunya-akibat-blok-mahakam-MgiOhyMPVk.jpg Ilustrasi Kilang. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor minyak dan gas (Migas) pada 2019 mengalami penurunan dibandingkan 2018. Salah satu penyebabnya karena lifting migas tidak capai target.

Baca Juga: Ada Gejolak Global, PNBP Sektor ESDM Tidak Capai Target

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PNBP sektor migas turun sebanyak Rp27,7 triliun dari Rp142,8 triliun pada 2018 menjadi Rp115,1 triliun di 2019.

Kilang Minyak

Menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto, penurunan setoran PNBP dari sektor migas disebabkan berbagai sektor. Salah satunya anjloknya jumlah produksi migas di Blok Mahakam yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero).

Baca Juga: 5 Penyumbang PNBP, Kemenkominfo Terbesar dengan Target Rp16,5 triliun

"Jadi, lifting migas juga ada beberapa problem contohnya di Mahakam ada minus 15 ribu (barel) yang terjadi karena adanya beberapa decline lebih tinggi, hasil ada pengeboran beberapa kali yang tidak sukses," ujar dia di kantornya Kamis (9/1/2020).

Ada juga beberapa faktor yang menyebabkan lifting minyak kurang maksimal. Di mana, realisasi lifting minyak hanya mencapai 746 ribu barel per hari, atau lebih rendah dari target 775 ribu barel per hari.

"Beberapa faktor tersebut, di antaranya kebocoran Exxon Mobil Cepu Limmited di Cepu hingga kebocoran di lokasi Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) di Karawang, Jawa Barat," ungkap dia.

Dia menambahkan, untuk meningkatkan kinerja di 2020, SKK Migas menyiapkan sejumlah strategi.

"Seperti kita launching di akhir 2019 lalu, laporan kerja yang dilakukan KKKS akan kita kawal dan peningkatan aktivitas kerja jangka panjang," pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini