nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasar Saham Bakal Sambut Penandatanganan Kesepakatan AS-China

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Senin 13 Januari 2020 07:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 12 278 2152035 pasar-saham-bakal-sambut-penandatanganan-kesepakatan-as-china-n3WV7Ezz5F.jpg Ilustrasi Pergerakan IHSG. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Minggu ini pasar saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) di warnai sentimen positif penandatanganan kesepakatan perdagangan fase pertama Amerika Serikat (AS)-China. IHSG pun berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.270 sampai 6.218 dan resistance di level 6.295 sampai 6.337.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, Kementerian Perdagangan China mengatakan Wakil Perdana Menteri Liu He akan ke Washington untuk menandatangani perjanjian tersebut, yang dicapai sebelum akhir tahun lalu. Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan itu akan ditandatangani Rabu depan.

Baca Juga: BEI Cermati Kenaikan Saham REAL

“Penandatangan Fase 1 menjadi sentiment positif,tetapi euforia pendatangan kami perkirakan berjangka pendek di pasar. Sebenarnya masih banyak perbedaan kedua Negara dan masalah tarif masih menjadi hambatan kedua Negara. Sebaiknya pelaku pasar melakukan SOS atau penjualan ketika pasar mengalami penguatan,” tuturnya, dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/1/2020).

Perang Dagang AS-China

Dari sentiment Tensi Timur Tengah, dia menilai sudah turun setelah insiden pembunuhan sosok kedua terpenting di Iran Jenderal Qassem Soeimani. Serangan lebih dari selusin rudal balistik sebagai balasan Iran ke pangkalan udara Irak yang menampung pasukan Amerika tidak memakan korban.

Baca Juga: Presiden Jokowi Akan Tutup-Buka Perdagangan Bursa Efek Minggu Depan

Menteri Luar Negeri Iran Mohamad Javad Zarif mengatakan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi atau perang, tetapi akan membela diri terhadap agresi apa pun. Selain itu, Presiden Trump mengatakan Iran tampaknya "mundur" setelah negara itu menyerang pangkalan udara Ain al-Asad.

Kemudian dari Brexit masih menjadi berita dari kawasan Eropa. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melakukan pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Rabu. Dalam pertemuan diberitakan Inggris tidak akan memperpanjang masa transisinya untuk keluar dari Uni Eropa, tetap pada Desember 2020.

Hal berbeda disampaikan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan Inggris pada dasarnya tidak mungkin menegosiasikan semua aspek hubungan masa depan dengan Uni Eropa pada akhir 2020. Pemimpin blok yang baru saja ditunjuk itu juga mengatakan hubungan antara kedua negara "tidak bisa dan tidak akan sama dengan sebelumnya."

“Hal ini mungkin meningkatkan risiko Brexit tampak kesepakatan yang kuat dan jelas,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini