nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menakar Kekuatan Ekonomi Indonesia 2020 hingga Potensi Perang Dunia III

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 05:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 14 20 2152783 menakar-kekuatan-ekonomi-indonesia-2020-hingga-potensi-perang-dunia-iii-ToNafxSVkQ.jpg Ekonomi 2020 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada tahun ini ditargetkan tumbuh 5,3% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Pemerintah mempunyai jurus pamungkas agar ekonomi dapat tercapai 5,3% di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti perang dagang AS-China, ancaman resesi global hingga brexit.

Namun, di tengah penyelesaian konflik perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, ada masalah eksternal lainnya seperti potensi Perang Dunia III antara AS dengan Iran. Hal ini dipicu pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani oleh AS.

Baca Juga: Periskop 2020: Daftar Bisnis yang Bakal Cuan di Tahun Tikus Logam

Ketegangan Timur Tengah ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kendati demikian, sampai saat ini pihak pemerintah belum menjelaskan dampak dari potensi Perang Dunia III.

Tercatat, untuk pertumbuhan ekonomi 2019 ditargetkan hanya tumbuh 5,04%-5,05%. Pencapaian ekonomi RI disebut nomor tiga di negara-negara G20, di bawah China dan India.

Baca Juga: Periskop 2020: Gegap Gempita Pesta Demokrasi Serentak di 270 Daerah

Presiden Jokowi masih yakin pertumbuhan ekonomi 2020 bisa mencapai target 5,3% sesuai APBN 2020.

"Kalau pertumbuhan investasi itu bisa mengalami kenaikan yang drastis, itu baru kita angka 5,3% akan bisa ketemu," ujar Jokowi dalam acara CEO Forum di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis 28 November 2019.

 Kerja Ilustrasi Shutterstock

Untuk mengejar investasi, pemerintah pun membongkar besar-besaran regulasi yang ada, mencabut aturan yang tumpah tindih hingga pembentukan omnibus law.

Sementara itu, pemerintah telah merancang tiga strategi utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di tahun 2020. Pertama, penguatan neraca perdagangan. Kedua penguatan permintaan domestik dan ketiga transformasi struktural.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat buka-bukaan tentang outlook perekonomian dan strategi kebijakan Pemerintah di tahun 2020,

"Selain merawat fundamental ekonomi agar tetap sehat, kami (Pemerintah), juga akan menjaga sentimen. Dasar ekonomi adalah dua hal itu," ujar Airlangga di kantornya, Jumat 20 Desember 2019.

 Kerja Ilustrasi Shutterstock

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis pertumbuhan ekonomi akan mengalami perbaikan di tahun 2020. Dia memperkirakan pada tahun depan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di kisaran 5,1%-5,5%.

Menurutnya, ada empat faktor yang mendorong pertumbuhan domestik, yakni pertama membaiknya ekonomi global di tahun depan. Bank Sentral memproyeksikan pada tahun 2020 ekonomi global tumbuh 3,1%, membaik dari perakiran pertumbuhan tahun 2019 yang sebesar 3%.

Hal itu ditopang akan adanya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan China untuk meredakan perang dagang keduanya.

"Dengan kesepakatan ini, kami mencatat dari implementasinya akan ada perundingan-perundingan lagi. Kesepakatan balance of risk akan membaik dan pertumbuhan ekonomi global akan bergerak ke arah 3,1%," ujar Perry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis 19 Desember 2019.

Akan tetapi, pengusaha meramal ekonomi 2020 sulit mencapai target. Bahkan, mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,85% hingga 5,10%.

"Proyeksi ini mempertimbangan sejumlah faktor, yaitu faktor eksternal (global) dan internal serta kelesuan perekonomian global dan perang dagang Amerika Serikat dengan China menjadikan aliran portofolio dana investor ke Indonesia menjadi terhambat sehingga hal ini menciptakan tekanan terhadap berbagai mata uang global, termasuk Rupiah," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani di Jakarta, Selasa 10 Desember 2019..

Sementara itu, lanjut dia kondisi internal banyak dipengaruhi oleh tingkat investasi yang belum akan beranjak jauh dari kondisi tahun 2019 di mana masih menghadapi berbagai macam tantangan terkait cost of doing business.

"Seperti perizinan usaha, ketenagakerjaan, logistik, perpajakan, akses lahan, biaya permodalan, energi, serta lemahnya daya beli," ungkap dia.

Bisnis 2020

Pengembangan bisnis pada tahun ini masih condong pada berbasis ekonomi digital hingga kecerdasan buatan Hampir semua lini bisnis berevolusi digital, mulai dari perbankan, manufaktur hingga UMKM.

Pekerjaan yang muncul dari revolusi industri 4.0 seperti fintech, e-commerce hingga perusahaan rintisan (startup). Saat ini keberadaan bisnis mereka di Indonesia sudah sangat menjamur.

Bahkan, keberadaaan fintech digadang-gadang bisa memusnahkan perbankan jika perbankan itu sendiri tidak menerapkan sistem digitalisasi. Sementara untuk bisnis startup, sudah sangat dirasakan manfaat dan sumbangan terhadap ekonomi Indonesia.

Indonesia kini memiliki 5 startup yang menyandang gelar unicorn. Julukan ini berlaku bagi startup yang telah memiliki valuasi aset di atas USD1 miliar. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak dan Ovo.

Sementara itu, ada lima tren unik yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan bisnis para wirausahawan di tahun ini, seperti menangkap demografi generasi milenial, gaya hidup, pembelajaran mesin dan kemajuan kecerdasan buatan, bisnis e-commerce hingga platform digital.

Di sisi lain, generasi milenial diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi. Berbeda pada generasi sebelumnya, milenial lebih memilih pekerjaan yang tidak membosankan dan tidak dibatasi oleh jam kerja, salah satunya menjadi youtuber hingga selebgram.

Bermodal konten, mereka dapat meraup untung besar dan kekayaan. Di Indonesia pun memiliki youtuber terkaya.

"Anak muda sekarang ini, apa tidak ingin seperti saya jadi menteri keuangan dan apa tidak ingin menjadi engineer atau kontraktor ya. Tapi mereka malah ingin jadi youtuber, gamer, designer. Jadi mungkin nanti bangun infrastrukturnya di virtual bukan di dunia nyata," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani.

UMP 2020

Pada tahun ini, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan kenaikan Upah Minimu Provinsi sebesar 8,51%. Kenaikan ini berlaku pada 1 Januari 2020.

Dengan kenaikan UMP, diharapkan produktivitas pekerja meningkat, meskipun tidak sedikit masih banyak yang menolak kenaikan UMP hanya 8,51%.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas pekerja. Menurutnya, selama ini produktivitas pekerja Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

"Kalau kita lihat sekarang, produktivitas para pekerja kita dibandingkan negara-negara ASEAN masih tertinggal," katanya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini