nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jemput Bola, Ini Fakta Kesepakatan UEA-Indonesia yang Capai USD22,89 Miliar

Fabbiola Irawan, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 06:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 17 320 2154451 jemput-bola-ini-fakta-kesepatan-uea-indonesia-yang-capai-usd22-89-miliar-eRwJqoVe0H.jpg Rupiah (reuters)

JAKARTA – Kerja sama bilateral antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) semakin erat. Hal ini dibuktikan oleh kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA Mohamed bin Zayed di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan di Abu Dhabi, UEA, Minggu 12 Januari 2020 sore.

Dari pertemuan antara kedua negara yang telah menjalin persahabatan ini muncul beberapa perjanjian dan kesepakatan. Perjanjian dan kesepakatan ini dinilai sebagai era baru hubungan kedua negara yang lebih erat.

Lalu apa saja yang menjadi kesepakatan antara negeri minyak dengan negeri seribu candi ini? Simak fakta-fakta berikut ini, Jakarta, Sabtu (17/1/2020):

 Baca juga: Jokowi Sebut Indonesia Bisa Raup Rp280 Triliun dari Dana Abadi Investasi

1. Bentuk 16 Kesepakatan Kerja Sama

Dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan, Indonesia dan UEA sepakat akan menjalin perjanjian kerja sama sebanyak 16 kesepakatan bersama.

“Saya sangat sambut baik, hari ini 16 perjanjian kerja sama dapat dilakukan,” kata Presiden Jokowi.

Perjanjian-perjanjian tersebut antara lain ialah kesepakatan antar delegasi di bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, dan penanggulangan terorisme. Sedangkan, 11 kesepakatan lainnya merupakan perjanjian bisnis. Kesebelas perjanjian itu adalah di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset.

 Baca juga; 100 Hari Selesaikan RUU Omnibus Law

2. Total Investasi UEA Capai USD22,89 Miliar

Dari 16 kesepakatan delegasi UEA dan Indonesia, diperkirakan total investasi UEA sebesar USD22,89 miliar atau sekitar Rp314,9 triliun.

Besaran dari investasi ini dinilai merupakan investasi terbesar di Indonesia. Terlebih lagi, kerja sama ini juga termasuk kejar tayang, sebab dalam kurun 6 bulan sudah bisa mencapai kesepakatan.

"Seperti yang disampaikan Presiden (Jokowi), ini adalah deal terbesar mungkin dalam sejarah Indonesia yang disepakati, yaitu dengan Uni Emirat Arab. Hanya dalam waktu enam bulan. Ada yang satu yang sedang difinalisasi oleh Menteri BUMN yaitu Sovereign Wealth Fund (SWF). Yang masuk ke dalam (proyek) SWF ini adalah UEA, Softbank, IDFC dari Amerika Serikat dan tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yang ikut bergabung," jelas Menteri Koordinator bidang dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

 Baca juga: Segera Serahkan RUU Omnibus Law ke DPR, Jokowi: Mohon Diselesaikan dalam 100 Hari

"Kerja sama ekonomi Indonesia-UEA dengan proyek senilai USD22,89 miliar, partisipasi UEA di dalamnya sebesar 33% yang bernilai USD6,8 miliar. Ada lima proyek G2G dan 11 proyek B2B," tambah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

3. Bertekad Cegah Terorisme

Presiden Jokowi juga menginginkan Indonesia untuk menjadikan UEA sebagai mitra dalam pendidikan Islam modern, modern, serta penuh toleran. "Hal ini sangat penting artinya bagi upaya mencegah ektremisme dan terorisme," papar Presiden.

Hal ini disetujui oleh Putra Mahkota Mohamed bin Zayed yang juga menyatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian. "Islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Islam selalu mengedepankan kedamaian," ujar Putra Mahkota. Dia menilai, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. "Islam di Indonesia dapat menjadi contoh Islam yang damai," ucapnya.

4. Bahas Pembentukan Indonesia Sovereign Wealth Fund (SWF)

Pembahasan mengenai pembentukan Indonesia SWF juga tak luput dari perhatian Presiden Jokowi dan Putra Mahkota Mohamed bin Zayed. Presiden bahkan menyambut baik pembahasan intensif SWF di Indonesia.

"Saran UEA, terutama dilihat dari perspektif investor, akan kami hargai," aku Presiden Indonesia ketujuh itu.

Menko Luhut Binsar Pandjaitan bahkan membeberkan rencana bulan depan MBZ, Masayoshi Son dan Adam Bohler dari IDFC yang akan melakukan pertemuan untuk pembicaraan finalisasi SWF bersama Menteri BUMN Erick Thohir.

"Pak Erick bersama mereka akan membicarakan hal yang menyangkut hukum dan UUnya agar lebih matang lagi. Kedua belah pihak akan membawa ahli hukumnya untuk mengevaluasinya. Mereka menekankan bahwa Indonesia tetap yang menjadi leader dalam proyek SWF. Semua pihak terlibat, Pak Erick, Pak Airlangga, dan saya ditunjuk sebagai koordinator tetapi ini sebenarnya adalah kerja bersama, kerja tim. Kerja sama tim ini juga yang membuat kita bisa mewujudkannya hanya dalam waktu enam bulan, " jelasnya.

5. Putra Mahkota UEA Jadi Dewan Pengarah Ibu Kota Baru

Presiden Jokowi juga menawarkan kepada UEA untuk ikut serta dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Dirinya bahkan meminta UEA menjadi ketua dewan pengarah dalam pembagunan Ibu Kota Indonesia yang baru.

Pada akhirnya, Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ) dipercayakan sebagai Dewan Pengarah pembangunan Ibu Kota Baru. Sheikh MBZ juga akan berada di bawah arahan langsung Presiden Jokowi. Kemudian Sheikh MBZ memiliki dua anggota yaitu Masayoshi Son dan Tony Blair.

Masayoshi Son adalah salah satu orang terkaya di Jepang, pendiri SoftBank dan Chief Executive Officer dari SoftBank Mobile. Adapun, Tony Blair adalah mantan Perdana Menteri Inggris periode 1997-2007, dia pernah bertugas sebagai utusan Timur Tengah untuk PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia dengan salah satu tugas utamanya adalah menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

"MBZ akan menjadi ketuanya dengan dua orang anggota, yaitu Masayoshi Son dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Di atasnya ada Presiden Joko Widodo yang akan menjadi Penganggung Jawab," imbuh Menko Luhut Binsar Pandjaitan melalui keterangan tertulis, Selasa (14/1/2020).

6. UEA Investasi Rp1,8 Triliun di PLTS Terapung Cirata

Selain membahas kesepakatan bisnis, UEA akan berinvestasi di bidang energi dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Prbadi mengatakan, perusahaan energi baru terbarukan (EBT) dari UEA akan membangun PLTS berkapasitas 145 mega watt peak (MWp).

Investasi yang digelontorkan UEA pada pembangunan PLTS Terapung Cirata ini mencapai Rp1,8 triliun dan bakal mencetak rekor pembangkit bertenaga surya terbesar di ASEAN mengalahkan PLTS Cadiz Solar Powerplant, Filipina sebesar 132,5 mw.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini