nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Reaction Engine Kembangkan Mesin Roket

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 23:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 18 320 2154908 reaction-engine-kembangkan-mesin-roket-zHewPUbtye.jpg Foto: ISRO

JAKARTA - Salah satu perusahaan Inggris sedang membuat langkah perubahan dalam propulsi. Reaction Engine sedang mengembangkan mesin roket, Sabre, untuk digunakan pada pesawat berkecepatan tinggi dan pesawat ruang angkasa.

Pada kecepatan yang diinginkan Reaction, Mach 5 (lima kali kecepatan suara) udara yang masuk ke mesin dapat mencapai suhu 1.000C. Temperatur udara akan menghancurkan mesin 

Sehingga Reaction mengembangkan sistem pendingin yang dapat mendinginkan udara yang masuk dalam sepersekian detik. Yang disebut pre-cooler terbuat dari tabung berukuran kecil, setebal kurang dari 1mm, yang dapat menyalurkan pipa pendingin di bawah tekanan tinggi, sekaligus mengurangi panas.

"Sabre ini benar-benar unik, tidak ada orang yang sadar akan hal ini, mengembangkan mesin roket bermuatan udara," kata kepala eksekutif Reaction Engines Mark Thomas, seperti dikutip BBC Indonesia, Sabtu (18/1/2020). 

"Teknologi pra-pendingin kami berada di kelas yang berbeda dengan apa pun di luar sana. Ini kinerja sangat tinggi, sangat ringan, dan bentuknya sangat miniatur," kata dia.

Reaction Engines berencana mulai membuat mesin Sabre pada tahun ini dan mengujinya pada 2021. Pre-cooler Reaction juga berpotensi digunakan untuk mesin jet konvensional supaya membuatnya lebih efisien, sebuah ide yang tengah diuji Rolls-Royce.

Menurut Prof Pericles, kita akan melihat perubahan pesat dalam pesawat penumpang ini dalam 30 tahun mendatang.

Saat itu ia berpikir akan ada transisi dari rancangan pesawaat saat ini, yang awalnya merupakan sebuah tabung, dengan mesin tergantung di bawah sayap, kepada rancangan berupa "blended wing".

Pesawat ini hanya memiliki satu sayap, dengan mesin terletak di atas.

Hidrogen kemungkinan merupakan bahan bakarnya, yang berpotensi menjadi bahan bakar dengan emisi sangat rendah.

"Bahan bakar hidrogen tidak dapat dihindari," kata Prof Pilidis. "Ini adalah solusi jangka panjang untuk sepenuhnya mendekarbonisasi penerbangan.

Namun demikian, para pecinta lingkungan mengatakan upaya itu harus segera dilakukan.

"Teknologi selalu berperan dalam mengurangi emisi, namun memecahkan krisis iklim adalah sesuatu yang perlu kita tuntaskan saat ini," kata Jenny Bates, juru kampanye organisasi Friends of the Earth. Prioritasnya bukan pengurangan emisi dengan memiliki lebih sedikit pesawat di udara. Ini adalah bagian penting untuk mencegah kerusakan iklim lebih lanjut," kata dia.

(Baca Juga: Rolls-Royce Perkirakan Ada 37.000 Pesawat Komersial Baru Pada 2040)

(rzy)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini