nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diprediksi Jadi Mata Uang Terkuat se-Asia, Ini Fakta Tren Penguatan Rupiah

Fabbiola Irawan, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 07:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 24 278 2157836 diprediksi-jadi-mata-uang-terkuat-se-asia-ini-fakta-tren-penguatan-rupiah-41Tur9LP7N.jpg Uang Rupiah. Foto: Okezone

JAKARTA – Sejak awal tahun 2020, Rupiah mengalami tren penguatan terhadap nilai Dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Indonesia ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya seperti kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang membaik.

Melansir Bloomberg, pada pembukaan perdagangan di pasar spot, Jumat 24 Januari 2020, Rupiah bertengger pada level Rp13.635 per USD.

Bank Indonesia (BI) juga mengatakan penguatan nilai tukar Rupiah diproyeksi akan menjadi mata uang terkuat di Asia tahun ini. Oleh karena itu, Okezone akan merangkum fakta-fakta seputar Rupiah yang akan menjadi mata uang terbaik di Asia pada tahun ini, Jakarta, Sabtu (25/1/2020):

Baca Juga: Rupiah Semakin Kuat, Sore Ini Kokoh di Rp13.639/USD

1. Didorong Prospek Ekonomi

Peningkatan atau penguatan Rupiah terhadap nilai tukar Dolar AS salah satunya disebabkan oleh prospek ekonomi yang meningkat. Bank Indonesia menilai hal ini merupakan hal yang wajar sebagai sebab-akibat.

“Prospek ekonomi meningkat, ya wajar rupiah menguat,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Kamis (23/1/2020).

2. Berdampak Positif Pada Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dengan menguatnya Rupiah, tentunya ini berdampak positif terhadap pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi Indonesia.

Baca Juga: Ramalan BI soal Penguatan Rupiah pada 2020

Gubernur BI menyatakan, nilai Rupiah mendorong kinerja Neraca Pembayaran Indonesia semakin membaik. Pada 22 Januari 2020, Rupiah menguat 1,74% dibandingkan dengan level akhir Desember 2019. “Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada 2019 yang tercatat 3,58% (ptp) atau 0,76% secara rerata,” ungkapnya.

Selain itu, kegiatan ekspor manufaktur akan meningkat seiring dengan penguatan rupiah. “Mungkin para eksportir yang komoditas penerimaan Rupiahnya kurang tapi penerimaan dolarnya baik. Di sisi lain, ekspor manufaktur baik dolar maupun Rupiahnya akan naik. Impornya juga akan dibantu untuk impor bahan baku barang modal untuk kebutuhan investasi,” Sambung Perry.

Menurutnya, kurs Rupiah yang menguat memang berdampak negatif bagi para eksportir komoditas karena hasil dari nilai Rupiah jadi lebih kecil, sebaliknya jika Rupiah melemah maka hasil nilainya akan lebih besar. Meski demikian, Perry menilai ekspor komoditas tak terlalu sensitif terhadap pergerakkan nilai tukar Rupiah, melainkan pada pergerakkan harga dan permintaan di pasar global.

3. Masuknya Modal Asing

Selain ditopang oleh perekonomian Indonesia yang membaik, penguatan Rupiah juga disokong oleh masuknya modal asing ke Indonesia. dengan masuknya modal asing, secara otomatis persediaan dolar menjadi faktor lainnya saat nilai tukar Rupiah menguat.

“Memang aliran masuk modal asing menambah supply, ekspornya juga naik menambah supply dan itu lebih besar supplynya dari permintaan devisa baik dari sisi impor maupun pembayaran utang luar negeri,” papar Gubernur BI.

Baca Juga: Rupiah Makin Perkasa, Gubernur BI: Prospek Ekonomi Meningkat

4. Sejalan dengan Fundamental

Seiring tren penguatan Rupiah, Bank Indonesia menyatakan hal ini seiring dengan kondisi fundamental. Pasalnya semakin baik mekanisme pasar dan keyakinan para pelaku pasar terhadap kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah.

Nantinya, BI akan tetap berusaha untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar yang terjaga. Hal ini bertujuan untuk menyokong efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik.

“Kami juga terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik pasar uang maupun pasar valas,” lanjut Gubernur BI.

Sebelumnya, Gubernur PI juga telah menyatakan penguatan mata uang Indonesia ini sejalan dengan kebijakan pemerintah. "BI melihat penguatan Rupiah masih sejalan dengan fundamental, sejalan mekanisme pasar, dan mencerminkan kredibilitas kebijakan dari pemerintah, BI, OJK, dan LPS," papar Perry dalam konferensi pers KSSK di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Baca Juga: Rupiah Mata Uang Terkuat di Asia, Apa Kata BI?

5. Rupiah Diramalkan Akan Terus Menguat

Penguatan Rupiah ternyata tidak sampai situ saja, Gubernur BI mengatakan penguatan mata uang Indonesia ini akan terus menguat. Penguatan ini juga akan terus meningkat jika neraca pembayaran Indonesia mengalami perbaikan.

“Kalau ekonomi kita membaik pertumbuhannya, inflasinya terjaga, neraca pembayaran juga surplus, tentu saja fundamentalnya akan baik juga akan mendorong penguatan Rupiah,” ungkap Perry.

Tren penguatan ini juga bisa terus menguat kalau surplus neraca pembayaran dan faktor mekanisme pasar lebih baik. Selain surplus neraca pembayaran, kredibilitas kebijakan Pemerintah Indonesia dan BI juga bisa mendorong penguatan Rupiah.

Walau demikian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhadap Rupiah tidak terlalu cepat menguat. Pasalnya dapat mempengaruhi penurunan daya saing Indonesia.

"Rupiah kalau menguat terlalu cepat, kita juga harus hati-hati. Ada yang senang dan ada yang tidak senang, eksportir tentu enggak senang. Karena jika Rupiah menguat, menguat, menguat, maka daya saing kita juga akan menurun," jelas Presiden dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Ritz Calrton, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

6. Rupiah Mengalahkan Mata Uang Negeri Gajah Putih

Kini, mata uang Rupiah dicanangkan menempati posisi sebagai mata uang se-Asia terbaik. Sebelumnya, Bath mata uang milik Thailand lah yang menjadi primadona.

Penyebab Rupiah yang menggeser Bath ini ialah kerja sama investasi yang terjalin antara Indonesia dengan berbagai negara. Obligasi Rupiah menawarkan hasil dari 5% hingga 8%. Alhasil banyak menarik investor untuk melakukan carry trade yang bertujuan untuk memanfaatkan perbedaan suku bunga kedua negara.

Sementara itu bila para investor berani untuk mengeksekusi tanpa melindungi nilai mata uang, mereka akan mendapat imbalan lebih besar jika nilai Rupiah terus naik, demikian dilansir Bloomberg, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Pada 10 Januari 2020, Rupiah mengalami penguatan sebanyak 0,8%. Kenaikan ini terus terjadi setelah kesepakatan investasi yang terjadi antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab, Softbank Group, Corp Jepang, dan US International Development Finance Corp.

Sebagai informasi, mata uang Rupiah pada tahun lalu kokoh di posisi ketiga podium, sedang di tahun ini rupiah nampak ditakdirkan di posisi teratas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini