Harga Minyak Anjlok 2,2% Imbas China Terserang Virus Korona

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 09:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 25 320 2158111 harga-minyak-anjlok-2-2-imbas-china-terserang-virus-korona-vCxR8ueGYK.jpg Minyak Mentah (Reuters)

NEW YORK - Harga minyak mentah merosot lebih dari 2% pada hari Jumat (24/1/2020) waktu setempat. Hal ini dikarenakan kekhawatiran virus Korona menyebar lebih jauh di China yang merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia.

Seperti diketahui, virus yang telah menewaskan 26 orang dan menginfeksi lebih dari 800 telah mendorong penangguhan angkutan umum di 10 kota China. Sementara itu kasus infeksi telah ditemukan di beberapa negara Asia lainnya, Prancis dan Amerika Serikat.

 Baca juga: Virus Korona Juga Picu Anjloknya Harga Minyak

Melansir Reuters, Jakarta, Sabtu (25/1/2020), minyak mentah Brent ditutup pada USD60,69 per barel turun USD1,35, atau 2,2%. Sebagai patokan minyak dunia, Brent turun 6,4% minggu ini.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS WTI berakhir pada USD54,19 per barel turun USD1,4 atau 2,5% pada hari Jumat. Di mana, terdapat penurunan mingguan 7,4% terbesar sejak 19 Juli.

 Baca juga: Harga Minyak Turun Imbas Melonjak Pasokan AS

"Ini semua tentang virus korona sepanjang waktu, dan kami tidak mendapatkan tanda-tanda bahwa semuanya menjadi lebih baik," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Otoritas kesehatan khawatir tingkat infeksi dapat meningkat selama liburan Tahun Baru Imlek akhir pekan ini, ketika jutaan orang China bepergian.

 Baca juga: Harga Minyak Stagnan Usai Kesepakatan Dagang AS-China

Pengalaman dengan wabah sebelumnya seperti SARS pada tahun 2003 dan MERS dari 2012 menunjukkan dampak ekonomi dari wabah relatif kecil. Namun, posisi dana lindung nilai dalam minyak telah menjadi miring, dengan posisi bullish melebihi jumlah yang bearish, membuat pasar rentan terhadap berita mengecewakan tentang konsumsi, kata John Kemp, seorang analis pasar Reuters.

Laporan pasokan terbaru pemerintah A.S. pada hari Kamis menunjukkan stok bensin bertambah untuk minggu ke 11 berturut-turut ke rekor tertinggi.

"Sulit untuk mendapatkan (tentang) pasar minyak yang konstruktif sampai kita melihat lebih banyak penurunan dalam inventaris dunia," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Persediaan minyak di dunia industri yang lebih luas berada di atas rata-rata lima tahun, menurut angka OPEC, yang menurut para analis membatasi dampak dari kehilangan pasokan.

Prospek langkah lebih lanjut oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, dapat menawarkan dukungan ke depan. OPEC + sebagian besar membatasi pasokan sejak 2017 dan pada 1 Januari memperdalam penurunan produksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini