nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Tengah Virus Korona, Pekerja Migran Indonesia Mengeluh Tak Diberi Libur

Jum'at 14 Februari 2020 15:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 14 320 2168447 di-tengah-virus-korona-pekerja-migran-indonesia-mengeluh-tak-diberi-libur-occsKfIiaa.jpg WNI Masker di Hong Kong (BBC Indonesia)

JAKARTA - Serikat Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong mengeluhkan sullitnya mendapatkan masker. Selain itu, beberapa para pekerja migran Indonesia keluhkan tidak memiliki libur. Bahkan, juga mengalami sikap diskriminatif.

Ketua Serikat Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong, Sringatin mengatakan, hal itu disebabkan oleh imbauan dari otoritas Hong Kong yang melarang PRT untuk keluar rumah di hari libur guna meminimalisir tertular virus corona.

 Baca juga: Imbas Wabah Covid-19, Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong Keluhkan Langkanya Masker

"Pekerja yang tinggal di rumah majikan bekerja di hari libur karena tidak bisa keluar, mereka tetap masak untuk majikan, menjaga bayi dan orang tua, dan tidak ada uang penganti jika kerja di hari libur," katanya mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Menurut Sringatin, sekitar lebih dari setengah buruh migran akhirnya tidak dapat berlibur dan beristirahat di akhir pekan. "Dan ada yang diancam majikan jika nekat libur, diancam dipecat," katanya.

 Baca juga: Menpan-RB Bakal Bereskan TKW Bermasalah di Dubai

Menurut Sringatin aturan tersebut juga bersifat diskriminatif karena seakan-akan PRT adalah calon penyebar virus corona.

"Kami disuruh belanja, bersih, higienis dan disuruh ganti masker setiap hari, tapi kami harus beli masker sendiri, pembersih tangan sendiri," katanya.

Lanjutnya, imbauan itu juga dimanfaatkan para majikan untuk menggunakan tenaga migran tanpa bayaran.

 Baca juga: BI: Transfer Dana Dari TKI Hanya USD8,8 Miliar, Masih Kecil

"Imbauannya dilarang libur (keluar rumah), tapi majikan tetap menyuruh mereka (PRT) belanja ke pasar beli stok makanan, tisu, beras dan masker yang antri dari pagi sampai malam," katanya.

Sringatin yang telah bekerja belasan tahun di Hong Kong juga menyebut jumlah masker yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal RI tidak cukup.

"Antre di KJRI satu jam untuk dapatkan tiga masker. Tiga masker itu tidak cukup karena dalam satu minggu paling tidak butuh enam masker," kata Sringatin.

Senada dengan itu General Manager dari Mission For Migrant Workers Cynthia Abdon Tellez mencatat beberapa masalah yang dihadapi oleh PRT Indonesia di Hong Kong, yaitu

1. PRT Indonesia diperintahkan untuk mengantri membeli masker, tisu dan bahan makanan tiga sampai enam jam, bahkan ada majikan yang menyuruh mereka membeli makanan sendiri akibat dari kelangkaan dan harga yang mahal.

2. Terjadi sikap diskriminasi, yaitu PRT dilarang meninggalkan rumah tapi majikan bergaul keluar rumah bahkan mengajak teman dan keluarga ke rumah.

3. PRT diharuskan menggunakan masker di dalam rumah, tapi majikan tidak walaupun sedang sakit.

4. PRT dilarang mendapatkan libur pada hari Minggu, tapi mengizinkan bahkan mendorong mereka untuk mengantri masker gratis.

5. PRT tidak diberikan pembersih alkohol dan vitamin, dan disuruh membeli sendiri.

Atas permasalahan di atas, Sringatin pun meminta Pemerintah Indonesia untuk menyediakan masker yang cukup kepada WNI di Hong Kong.

"Lalu juga melakukan upaya bilateral untuk menyampaikan dampak negatif imbauan pemerintah Hong Kong tersebutdan membuat hotline khusus jika ada pekerja yang didiskriminasi dan mendapat ancaman PHK," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini