nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta-Fakta Pemerintah Siapkan 'Obat' Penangkal Virus Korona untuk Maskapai

Hairunnisa, Jurnalis · Sabtu 15 Februari 2020 09:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 14 320 2168568 fakta-fakta-pemerintah-siapkan-obat-penangkal-virus-korona-untuk-maskapai-hXjubIZWBu.jpg Insentif untuk Maskapai Penerbangan di Tengah Virus Corona. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Sebagai langkah tindak lanjutan dari menyebarnya wabah virus korona yang berimbas pada kunjungan jumlah wisatawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta kepada seluruh stakeholder untuk memberikan insentif kepada maskapai.

Menurut Budi, berdasarkan arahan dari Presiden Jokowi, seluruh pihak diminta untuk mendorong pemberian insentif agar tarif penerbangan bisa lebih murah.

Okezone rangkum beberapa fakta terkait insentif untuk tiket pesawat, Sabtu (15/2/2020).

1. Presiden minta Penerbangan ke Bali, Manado, dan Kepulauan Riau Lebih Murah

Berdasarkan arahan dari Presiden Jokowi, seluruh pihak diminta untuk mendorong pemberian insentif, khususnya tarif penerbangan yang menuju Bali, Manado dan Kepulauan Riau yang jumlah penumpangnya anjlok.

“Contoh insentif dari Pemerintah kepada maskapai misalnya: PNBP akan kita kurangi, kemudian API dan AP II mengurangi landing fee, diskon sewa ruangan, dan sebagainya. Jadi Pemerintah, operator bandara, maskapai, hotel harus sama-sama memberikan insentif. Tidak mungkin Pemerintah melakukan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menggenjot sektor pariwisata. Supaya orang tetap punya keinginan untuk berlibur,” Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

2. Wacana Pemberian Intensif

Saat ini wacana pemberian insentif ini tengah dibahas oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

“Dalam beberapa hari ini kami akan membuat suatu klarifikasi, dan akan kami usulkan ke Presiden minggu depan,” jelasnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

3. Maskapai dengan Rute China dan Singapura Alami Penurunan Penumpang.

Menhub Budi Karya Sumadi menyebut maskapai yang mempunyai rute-rute ke mainland China dan Singapura adalah yang paling terdampak. Prediksi Menhub telah terjadi penurunan sekitar 30% pada maskapai-maskapai tersebut.

“Kita memang belum bisa memastikan kerugiannya sendiri, yang punya masalah itu rata-rata adalah yang berhubungan dengan mainland China dan Singapura. Yang lainnya sebenarnya relatif masih baik. Tetapi karena penerbangan ini juga ada sebagian ke Tiongkok kira-kira 30%, jadi berkurang rata-rata 30%,” sebutnya.

4. Menhub Berdiskusi dengan Maskapai

Guna menutupi potensial lost tersebut, pihaknya telah telah berdiskusi dengan maskapai, dengan memikirkan peluang-peluang apa yang mungkin dilakukan. Misalnya dengan membuka rute rute penerbangan menuju wilayah Asia Barat seperti India hingga Pakistan.

“Untuk opportunity, yang paling masif itu di Asia Barat seperti India, Pakistan, Bangladesh. karena memang beberapa saat sebelum kejadian ini, para duta besar itu bertemu saya untuk dapat connecting flight.

Oleh karenanya saya minta kepada Garuda, Batik, Lion, Air Asia untuk mencari konektivitas ke Asia Barat, paling lambat bulan Mei ini untuk buka rute baru, karena perencanaan itu tidak bisa langsung seketika,” kata Menhub.

5. Kemenpraf

Sementara itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan insentif ini adalah untuk semua. Menurutnya dalam menyikapi hal ini harus dipikirkan secara komprehensif supaya dapat bertahan dalam tantangan menghadapi virus korona ini, bukan hanya maskapai, tapi juga hotel dan sebagainya.

“Jadi kita mencoba kali ini untuk mendengarkan pemikiran dari maskapai dan kita juga sudah melakukan pembicaraan dengan PHRI dan sebagainya yang terkait dengan pariwisata secara keseluruhan. Jadi saya pikir ini adalah usaha kita untuk bagaimana dapat menghadapi tantangan virus korona ini, tidak mudah tetapi kita harus lakukan yang terbaik. Untuk kerugian ini masih berjalan, kita tidak tahu karena virus korona belum berhenti. Sebagai gambaran dalam setahun Tiongkok menyumbang 2 juta wisatawan dengan total devisa USD 2,8 miliar,” kata Wishnutama.

6. Menhub Lobi Sri Mulyani

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, adapun salah satu insentif yang akan diberikan adalah berupa pengurangan besaran kewajiban membayar penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, saat ini dirinya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kementerian Keuangan sebagai pemilik kebijakan.

"Kan PNBP diusulkan oleh mereka kewenangan untuk mengurangi, meniadakan itu di Kementerian Keuangan. Jadi kita nanti ada putaran untuk rapat bersama Kemenkeu, Kemenhub, dan Kemenparekraf," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perhubungan.

7. Maskapai Kena Biaya PNBP Rp60 juta per sekali terbang

Saat ini, maskapai harus membayar biaya PNBP sebesar Rp60 juta per sekali terbang. Angka tersebut dihitung dari 0,3% dari harga avtur yang dipakai pesawat tersebut.

"PNBP kalau pesawat mendarat kena biaya. Ada Rp60 juta," ucapnya.

8. Maskapai juga mendapatkan pengurangan biaya landas

Selain insentif berupa pengurangan pembayaran PNBP, maskapi juga direncanakan akan mendapatkan insentif berupa pengurangan biaya landas alias landing fee, parking fee dan biaya sewa ruangan. Hal ini mendapatkan dukungan dari operator bandara seperti Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II.

"Bentuk insentifnya apa, apakah pengurangan PNBP, apakah pengurangan biaya landas atau PSE nanti diomongin di situ," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini