nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PNS Senior Diminta Melek Literasi Keuangan

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 19 Februari 2020 19:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 19 320 2171076 pns-senior-diminta-melek-literasi-keuangan-mbbbo34eUT.jpg PNS (Foto: Setkab)

JAKARTA - Pendidikan literasi keuangan saat ini penting bukan hanya untuk milenial, tetapi juga bagi pekerja yang sudah lama terutama Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Literasi keuangan secara umum adalah pengetahuan untuk mengelola keuangan sehingga para pegawai nanti dapat sejahtera bukan hanya di masa sekarang ini, tetapi ke depan saat sudah selesai tugas.

”Nanti kita supaya sejahtera ini kita bisa mengelola, bisa me-manage keuangan yang kita dapatkan pada saat ini untuk nanti pada saat masa depan kita nanti ke depan,” ujar Kepala Biro SDM dan Ortala Ratih Mayangsari seperti dilansir setkab, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Baca Juga: Peserta Ujian SKD CPNS Kemenperin Diingatkan Industri 4.0

Para pegawai, lanjut Ratih, diharapkan mampu mengelola keuangan dengan menyisihkan pendapatan di usia produktif untuk nanti digunakan saat usia nonproduktif. Dia juga menyampaikan bahwa pesan dan nasehat dari orangtua dahulu bahwa dalam mengelola keuangan itu tentu harus memprioritaskan kebutuhan bukan keinginan.

”Nah, kita sering terjebak dalam mengelola keuangan itu, keinginan yang kita dahulu kan, padahal sebenarnya kan kebutuhan. Nah, ini yang sering menjebak kita, akhirnya kita terjerumus dalam masalah keuangan,” tambahnya.

Baca Juga: 1.000 Peserta CPNS Istana Ikuti Ujian SKD

Pada praktiknya, lanjut Ratih, masalah indisipliner pegawai salah satunya bersumber dari masalah keuangan sehingga menghambat produktivitas dalam bekerja.

”Menurut penelitian itu bahkan ada 46% pegawai atau karyawan yang dia tidak produktif karena disebabkan oleh adanya permasalahan keuangan di dirinya,” katanya.

Jika diklasifikasikan berdasarkan generasi, lanhut Ratih, ternyata untuk generasi yang Baby Boomers kelahiran tahun 60-an sampai 70-an yang mempunyai permasalahan keuangan itu hanya sebesar 20%.

”Tapi yang Gen X, yang lahir di tahun 70 sampai 80-an itu ternyata cukup besar nilainya, sekitar 45%-an kalau tidak salah, dan Gen Y yang kebanyakan sekarang di generasi milenial, yang Gen Y itu permasalahan keuangan nya juga cukup besar daripada Baby Boomers, sebesar 35%-an sekitar itu. Jadi, kalau ditotal ya semua 100%,” jelasnya.

Belum lagi, sambung Ratih, berbagai masalah seperti investasi maupun penawaran deposito yang menawarkan berbagai macam iming-iming dan sering kali tidak make sense kalau benar-benar bijak memilih investasi apa yang akan diambil.

”Kami di Setkab ini tidak ingin para pegawai di Setkab itu mempunyai literasi keuangan yang rendah seperti di masyarakat, seperti itu. Bahkan di Indonesia ini kalau enggak salah literasi keuangan masyarakatnya itu masih di bawah 50%,” tambahnya.

Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa Setkab menyelenggarakan seminar Financial Literacy: Keuangan di Era Jajan Masa kini agar semua nanti akan melek dengan literasi finansial dan meningkatkan produktivitas kinerja.

”Karena akibatnya tadi kan produktivitas kinerjanya menurun akhirnya juga berdampak pada kinerja organisasi atau bahkan juga nanti akan menuju ke tindakan indisipliner itu yang kita hindari, jangan sampai seperti itu,” sambungnya.

Jika tingkat literasi keuangan di masyarakat itu tinggi, menurut Ratih, dampak bagi masyarakat itu akan semakin banyak yang mengenal produk dan jasa keuangan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan yang formal tentunya.

”Kalau transaksi keuangannya semakin meningkat tentunya juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tentunya menciptakan juga pemerataan pendapatan, dan semakin banyak masyarakat yang menabung dan berinvestasi akan berdampak juga kepada meningkatnya sumber pembiayaan pembangunan,” urainya.

Ratih berharap agar semua dapat makin sejahtera setelah mendengarkan paparan dan mampu menerapkannya bukan hanya masa sekarang tapi untuk ke depan di saat tua. ”Masa tuanya sudah tidak ada masalah tentang keuangan lagi, kita semua bisa happy-happy di masa tua dan kita tidak akan ketakutan dalam menghadapi masa tua nanti pada saat kita tidak produktif lagi,” pungkas Ratih.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini