Virus Korona Guncang Pasar, Ini Saham yang Tahan Banting

Sabtu 14 Maret 2020 21:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 14 278 2183290 virus-korona-guncang-pasar-ini-saham-yang-tahan-banting-RauTdkIzJM.jpg Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)

JAKARTA - Di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) imbas virus korona, investor pasar modal tetap bisa memanfaatkan situasi pasar yang sedang turun ini untuk mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka waktu panjang.

Saham-saham apa yang penurunannya tidak terlalu besar dalam situasi krisis dan cepat pulih? Berikut ulasannya seperti dikutip artikel BEI, Jakarta, Sabtu (14/3/2020).

Saham perusahaan industri farmasi contohnya adalah saham yang relatif tahan krisis dan akan cepat recovery. Mengapa? Karena obat-obatan tetap dibutuhkan orang yang akan tetap terkena penyakit dalam situasi ekonomi apapun. Artinya, perusahaan-perusahaan farmasi tidak akan mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Dan harga saham sektor ini relatif stabil.

Baca Juga: Kapitalisasi Pasar BEI Lenyap Rp678 Triliun Jadi Rp5.678 Triliun

Sektor yang kedua berdasarkan analisa beberapa perusahaan sekuritas, yang tahan krisis adalah sektor makanan. Karena orang tetap butuh makan. Perusahaan yang memproduki mi instan, harga sahamnya relatif bertahan.Orang akan mengkonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang harganya terjangkau di masa resesi.

Sebaliknya, sektor konsumsi non primer seperti otomotif, gaya hidup contohnya pusat perbelanjaan, otomotif, gadget, dan barang lain yang berkomponen impor cenderung menurun harganya dan agak lama untuk naik kembali. Sektor perumahan atau real estate juga cenderung paling terpukul saat krisis.

Baca Juga: IHSG Merosot Tajam, Sektor Saham Apa yang Kebal dari Virus Korona?

Sementara sektor perbankan walaupun cepat turun di saat krisis ekonomi terjadi, umumnya paling cepat bangkit juga. Karena ketika perekonomian pulih, para pengusaha cenderung mencari bank untuk mendapatkan modal kerja untuk berusaha melakukan ekspansi dan menambah modal kerja.

Jadi, selain melakukan wait and see. Melihat dan menunggu situasi, investor bisa pelan-pelan melakukan pembelian saham-saham yang berpotensi naik ke depan. Tidak perlu sekaligus besar, karena tidak ada yang tahu, apakah saat ini sudah pada titik bottom atau masih akan terjadi penurunan. Pembelian berkala menjadi pilihan untuk memanfaatkan momentum. (TIM BEI)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini