nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tergerus Virus Corona, Industri Properti Minta Stimulus ke OJK

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 22 Maret 2020 16:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 22 470 2187298 tergerus-virus-corona-industri-properti-minta-stimulus-ke-ojk-cODh4H32mt.jpg Industri Properti Lesu di Tengah Wabah Virus Corona. (Foto: Okezone.com/CTBUH)

JAKARTA - Dampak penyebaran pandemi virus corona di dunia, sudah dirasakan para pelaku usaha. Salah satunya adalah industri properti khususnya di Jakarta.

Ketua Dewan Pengurus Daerah REI DKI Jakarta Arvin F Iskandar mengatakan, perlu ada langkah cepat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan stimulus untuk sektor properti. Sebab, saat ini penjualan real estate di Jakarta mulai mengalami penurunan akibat wabah virus corona.

“Industri real estate sejatinya sudah mengalami perlambatan sejak tahun 2017. Saat ini akibat pandemi covid-19, kondisinya semakin melemah akibat penurunan aktivitas ekonomi. Tingkat penjualan drop, sementara biaya yang harus dikeluarkan tetap,” ujarnya mengutip dari keterangan tertulis, Minggu (22/3/2020)

Baca Juga: Erick Thohir Pastikan Suplai Kebutuhan Alat Medis di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet

Menurut Arvin , OJK ikut mendukung industri realestat dengan memberikan stimulus seperti berupa penundaan pembayaran hutang pokok dan keringanan bunga sampai dengan Desember 2020. Stimulus itu dapat dapat dievaluasi kembali dengan melihat dampak bisnis yang diakibatkan oleh penyebaran Covid-19.

Menurut Arvin, pandemik virus Covid-19 telah menyebabkan penurunan secara signifikan omset dan volume penjualan atau serapan pasar atas produk properti yang dijual. Hal itu jelas akan berdampak pada menurunnya kemampuan membayar pengembang terhadap bank atas kewajiban hutang.

Baca Juga: Wisma Atlet Kemayoran Siap Dioperasikan Jadi RS Darurat Covid-19

Selain penjualan lanjut Arvin semua progres proyek realestat di DKI Jakarta ikut terpengaruh proses pembangunannya. Khususnya yang menggunakan material atau bahan baku yang berasal dari negara-negara terdampak Corona.

Pengembang kesulitan mendatangkan material dan bahan baku karena negara produsennya juga terdampak. Namun biaya operasional dan bunga pinjaman tetap harus dibayarkan.

“Kami meminta otoritas berwenang memberikan stimulus. Jika hal ini dibiarkan sangat dikhawatirkan akan terjadi peningkatan kredit macet atau non performing loan (NPL). Industri realestat itu adalah lokomotif perekonomian nasional, menggerakkan 175 sektor riil ikutannya. Beri kami ruang gerak dulu, sambil menunggu redanya virus ini,” kata Arvin

Selain itu lanjut Arvin, pihaknya meminta kepada pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan penundaan dan keringan pembayaran pajak Hotel dan Restoran. Selain itu, para pengusaha juga meminta agar penundaan Kenaikan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak).

Lalu yang terakhir adalah meminta agar pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dapat dicicil tanpa dikenakan denda. Saat ini lanjut Arvin, terdapat cukup banyak perusahaan Anggota REI DKI Jakarta khususnya yang mengembangkan hotel dan restoran yang terdampak.

“Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa okupansi hotel mengalami kemerosotan hingga 80 %. Padahal hotel memiliki karyawan dan properti dalam jumlah yang besar. Demikian juga soal penundaan Kenaikan NJOP dan PBB. Hal ini diakibatkan kemampuan membayar para pengembang yang terus menurun,” kata Arvin.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini