Ada Virus Corona, BI: Inflasi Minggu Kedua April 0,2%

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 09 April 2020 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 09 20 2196727 ada-virus-corona-bi-inflasi-minggu-kedua-april-0-2-LEfADXVP6K.jpg Rupiah (Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia memprediksi angka inflasi hingga minggu kedua April adalah 0,2% (month to month/MtM). Sementara secara tahunan, angka inflasi hingga minggu kedua April adalah 2,9%.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, harga-harga bahan pokok di sejumlah pasar terkendali di tengah pandemi Covid-19 atau Virus Corona. Hal ini setelah, BI melakukan pemantauan di 46 kantor Bank Indonesia.

 Baca juga: Defisit APBN Melebar, BI Perhitungkan Dampak ke Inflasi

"Ini (inflasi) rendah. Dan ini menunjukkan bagaimana berbagai faktor yang berpengaruh terhadap inflasi itu terkendali," ujarnya dalam teleconfrence, Kamis (9/4/2020).

Menurut Perry, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka inflasi tetap terjaga di angka rendah meskipun ada virus corona. Pertama adalah, inflasi terjaga tidak terlepas dari peran pemerintah pusat dan daerah yang terus memastikan agar harga bahan pokok tetap terjaga.

 Baca juga: Kenaikan Harga Emas, Biang Kerok Inflasi Maret 0,10%

Kemudian faktor yang kedua adalah, perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan lebih rendah dari pada kapasitas produksi nasiona. Sehingga saat ini Indonesia mengalami yang disebut oleh kesenjangan output yang negatif.

"Kita lihat tingkat pertumbuhan ekonomi kita akan lebih rendah dari yang kemampuan kapasitas produksi nasional, sehingga kita mengalami yang kita sebut kesenjangan output yang negatif artinya apa tekanan-tekanan inflasi dari sisi permintaan itu terkendali," jelas Perry.

Selain itu lanjut Perry, faktor lainnya adalah tidak terpengaruhnya harga pangan oleh nilai tukar rupiah. Padahal, niali tukar rupiah masih naik turun bahkan beberapa waktu lalu sempat mendekati angka Rp17000 per USD.

"Keempat tentu saja adalah terjangkau artinya ekspektasi inflasi Apakah di masyarakat di konsumen maupun juga di sisi produsen dan itu tidak terlepas dari bagaimana kita bisa melakukan kredibilitas kebijakan moneter yang kita sudah bangun," kata Perry.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini