Tagihan Listrik Pelanggan Membengkak, YLKI Salahkan Kurangnya Edukasi dari PLN

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 320 2210476 tagihan-listrik-pelanggan-membengkak-ylki-salahkan-kurangnya-edukasi-dari-pln-NlKdw5MgU3.jpg Listrik (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) buka suara terkait lonjakan tagihan listrik yang terjadi pada pelanggan selama Work from home (WFH). Hal ini menyusul banyaknya keluhan dari para konsumen rumah tangga yang tagihan listriknya yang mengalami lonjakan antara 50 hingga 100%.

Sementara konsumen mengaku mengalami kenaikan tagihan, namun managemen PLN justru tidak menaikkan tarif listrik. Hal yang sama juga dikatakan oleh regulator dalam hal ini Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementeriaan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga: Cara Dapatkan Token Listrik Gratis dari PLN

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, kenaikan tagihan yang dialami para pelanggan ini bukti dari kurangnya edukasi yang dilakukan perseroan pada konsumen. Apalagi, pada saat WFH seperti saat ini, sangat penting untuk melakukan edukasi agar pemakaian listrik tidak boros.

"Kalau konsumsi energi listrik, klimaksnya tagihan akan naik. Seharusnya PT PLN memberikan edukasi dan informasi bahwa selama WFH konsumen seharusnya berhemat listrik," ujarnya mengutip keterangan tertulis, Kamis (7/5/2020).

Baca Juga: 2.900 Pelanggan Keluhkan Melonjaknya Tagihan Listrik

Apalagi lanjut Tulus, selama WFH ini juga para petugas pencatat meter dari PLN tidak datang ke rumah konsumen. Sebab, para pelanggan hanya mengirimkan data posisi stand meter terakhir melalui foto.

Jika para pelanggan tidak mengirimkan foto kepada PLN, maka perseroan akan menggunakan formasi 3 bulan terakhir untuk memakai pemakaian listrik konsumen. Namun hal tersebut banyak yang tidak diketahui oleh para pelanggan sehingga meskipun pemakaian dihemat, namun tagihan tetap sama seperti bulan sebelumnya.

"Hanya saja informasi ini tidak 100% sampai ke konsumen, sehingga konsumen tidak mengerti himbauan dan formulasi tersebut," kata Tulus.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini