nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tanri Abeng Cerita Krisis Ekonomi 1998 yang Tak Bisa Diprediksi hingga Peran IMF

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 18 Mei 2020 14:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 05 18 20 2215871 tanri-abeng-cerita-krisis-ekonomi-1998-yang-tak-bisa-diprediksi-hingga-peran-imf-egOCQjFRNd.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Awal mula krisis ekonomi pada 1998 di Indonesia sama sekali tidak diprediksi oleh pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)Tanri Abeng.

Menurutnya menteri keuangan Indonesia saat itu menjamin kondisi fundamental ekonomi makro dalam posisi baik. Tapi tanda krisis kemudian dengan sangat cepat melanda Indonesia.

"Hal itu ditandai dengan menurunnya nilai mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat dari posisi Rp2.400 per USD hingga mencapai puncak tertinggi sebesar Rp17.000 per USD pada pertengahan 1998. Dan krisis ekonomi dengan diawali depresiasi mata uang Thailand pada 1997," ujar dia pada telekonferensi, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Baca Juga: Kabar Buruk, Ekonomi Jepang Masuk Resesi

Dia menjelaskan perubahan ekonomi yang cukup cepat itu, membuat Indonesia harus mempertahankan agar roda perekonomian bisa tetap berjalan. Seperti, dengan meminjam utang kepada Dana Monter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

"Presiden Soeharto pada waktu itu, mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi krisis. Pada 10 Januari 1998 itu IMF menandatangani kesepakatan dengan Pak Harto. Waktu itu ada stanby loan USD43 juta kalau tidak salah persisnya," ungkap dia.

Baca Juga: IMF Sebut Covid-19 Picu Resesi, Apa Kata BI?

Kemudian, lanjut dia, tidak hanya meminjam utang kepada IMF, Indonesia juga berbenah memperkokoh ekonomi dengan membentuk Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan yang diisi oleh 5 menteri dan penasehat Presiden.

"Jadi tugas dewan itu salah satunya mencari solusi agar BUMN dapat berperan menekan potensi pembengkakan utang Indonesia," jelas dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati buka-bukaan soal pemulihan ekonomi Indonesia dari pandemi virus corona atau Covid-19. Dari sisi kebijakan ekonomi makro terutama aspek fiskal dan keuangan negara dapat dikaitkan ke dalam konteks hari ini yaitu bagaimana teori instrumen dan kebijakan dalam situasi menghadapi pandemi COVID-19.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa pemerintah memberikan stimulus fiskal untuk penanganan COVID-19 di sektor kesehatan, social safety net/ jaring penagaman sosial, dukungan industri, dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Program Pemulihan Ekonomi Nasional merupakan langkah pemerintah dalam melindungi mempertahankan dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dari sektor riil dan sektor keuangan dalam menjalankan usahanya selama pandemi COVID-19.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini