nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menanti Penurunan Harga Gula dengan Operasi Pasar dan Impor, Ini 8 Faktanya

Wilda Fajriah, Jurnalis · Sabtu 23 Mei 2020 10:26 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 05 23 320 2218419 menanti-penurunan-harga-gula-dengan-operasi-pasar-dan-impor-ini-8-faktanya-9XX4nvnQjm.jpg Gula (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah serius menurunkan harga gula jelang Lebaran. Terlebih lagi, Presiden Jokowi sudah menyoroti harga gula yang tak kunjung turun, di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram (kg).

Kementerian Perdagangan hingga Bulog melakukan operasi pasar gula untuk menurunkan harga gula sebelum Lebaran. Selain itu, gula impor juga sudah membanjiri pasar di Indonesia.

Apakah akan ampuh menurunkan harga gula? Berikut fakta-fakta menarik soal harga gula seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (23/5/2020).

1. Operasi Pasar Gula

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto turun langsung dalam Operarasi Pasar Gula untuk mengecek sendiri harga gula yang dijual pedagang. Beberapa pedagang diketahui masih menjual gula pada kisaran harga Rp17.000 per kg.

Setelah ini, para pedagang diminta tegas untuk tidak menjual gula di atas HET Rp12.500/kg. Pedagang yang masih menjual gula di atas HET tersebut akan ditindak tegas Satgas Pangan.

“Saya sengaja minta produsen untuk menjual gula langsung ke pedagang di pasar rakyat sesuai HET Rp12.500 per kg," kata Mendag Agus.

2. Lapor jika Ada Pedagang Naikkan Harga Gula

Jika ada distributor, subdistributor dan pedagang yang membuat harga jual gula sampai ke konsumen menjadi lebih mahal dari Rp12.500 per kg, Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan tidak akan segan-segan menindaknya dengan tegas.

“Ini perintah Bapak Presiden. Jika ada distributor, agen dan pedagang yang menjual harga gula lebih mahal dari HET Rp12.500/kg, tolong segera laporkan. Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan tak akan segan-segan menindaknya,” tegas Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

3. Penyebab Harga Gula Mahal, dari PSBB hingga Impor Telat

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan, beberapa masalah yang menyebabkan harga gula sempat naik tinggi yang membuat Presiden Jokowi geram.

Harga gula saat ini masih di atas harga HET Rp12.500 per kg. Para pedagang pun masih ada menjual harga gula di level Rp17.000 per kg.

"Ini akibat terganggunya jalur distribusi, mundurnya jadwal pengapalan impor karena penetapan lockdown sejumlah negara yang terkena pandemi COVID-19 serta diberlakukannya pembatasan pergerakan hingga adanya jadwal penggilingan tebu yang tertunda," kata Agus.

4. Rantai Distribusi Terlalu Panjang

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menemukan panjangnya distribusi membuat mahalnya harga gula di pasaran. Hal ini sesuai dengan temuan dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PTKN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Satgas Bahan Pangan saat ke Pabrik Gula Kebon Agung Malang.

"Akhir-akhir ini harga gula agak tinggi, melihat permasalahan-permasalahannya salah satunya mata rantai distribusi yang panjang," ujar Agus Suparmanto saat mengunjungi Pabrik Gula Kebon Agung, Malang.

5. Kemendag Sita 300 Ton Gula dari Distributor Nakal 

Direktorat Jenderal (Ditjen) Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyita 300 ton gula dari distributor nakal di wilayah Malang raya dan beberapa daerah lainnya di Jawa Timur.

Dirjen PKTN Veri Anggrijono mengatakan bila 300 ton gula siap dipasarkan ini merupakan hasil temuan dari tim PKTN bersama tim pengawasan Satgas Pangan di beberapa wilayah di Malang Raya dan Jawa Timur. Namun distributor tersebut tidak tercatat di Kemendag sehingga dapat dikatakan ilegal yang membuat pihaknya sulit mengontrol bila ada kenaikan harga dan kelangkaan stok di lapangan.

“Sempat kami amankan 300 ton gula milik distributor. Ini kita temukan ada beberapa distributor yang tidak tercatat di Kemendag,” ujar Veri saat ditemui di Pabrik Gula Kebon Agung Malang.

6. KPPU Endus Dugaan Pelanggaran Usaha

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), menduga adanya pelanggaran di persaingan usaha tentang penjualan gula pasir di dalam negeri.

Menurut Komisioner KPPU Guntur Saragih, tercatat impor atas gula sudah terealisasi 450.000 ton, walaupun sebelumnya ada keterlambatan dalam penerbitan Surat Perizinan Impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Hal tersebut membuktikan, pasokan gula sudah tersedia di dalam negeri.

"Jadi, ketika sudah masuk ke dalam negeri, maka KPPU bisa masuk ke dalam ranah persaingan usaha. Pasalnya ada kegiatan pelaku usaha dalam hal menjual gula yang sudah ia dapatkan dari realisasi impor. Di mana praktiknya memang ditemukan harga masih begitu tinggi," ujar dia.

7. Bulog Guyur 22.000 Ton Gula Impor India

 

Perum Bulog menggelontorkan 22.000 ton gula untuk guna menjamin stabilisasi harga dan ketersediaan stok gula di masyarakat.. Gula tersebut diimpor Bulog dari India.

“Pada 5 Mei, Bulog menggelontorkan gula yang baru datang dari India dan langsung didistribusikan ke seluruh Indonesia,” ujar Dirut Perum Bulog Budi Waseso, dalam keterangannya, Jumat 22 Mei 2020.

Bulog memiliki kuota impor gula sebanyak 50.000 ton. Hanya saja, kata Budi Waseso, pemeberian izin impor gula tersebut terlambat dari Kementerian Perdagangan.

“Sejak awal kami sudah mengantisipasi kelangkaan gula dan minta kuota impor gula pada akhir 2019, namun izin impor Bulog baru diberikan pada 7 April 2020, sehingga menyebabkan suplai gula terlambat,” katanya.

 

8. Dirut Bulog Sebut Harga Gula Mulai Terasa Normal

 

Perum Bulog klaim harga gula sudah normal. Meski dalam pantauan di info pangan Jakarta, harga gula pasir masih Rp17.000 per kg.

Dirut Perum Bulog Budi Waseso memastikan stabilisasi harga gula melalui operasi pasar yang dilaksanakan di seluruh Indonesia berjalan lancar. walau sebelumnya sempat mengalami keterlambatan izin impor gula dari Kementerian Perdagangan yang bisa menghambat program pemerintah soal pangan pokok.

“Harga gula mulai terasa normal sejak Bulog melakukan operasi pasar khusus gula secara serentak ditanah air sejak awal Mei 2020,” kata Budi Waseso, Jumat 22 Mei 2020.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini