Beda Krisis 1998 vs 2020, Dirut BRI: Kali Ini Menguji Celengan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at 05 Juni 2020 17:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 05 20 2225168 beda-krisis1998-vs-2020-dirut-bri-kali-ini-menguji-celengan-VylMnszQsK.jpg Ilustrasi Grafik Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Sejarah menunjukkan, Indonesia pernah mengalami berbagai ujian krisis ekonomi. Yang terdalam pada 1998, kemudian 2008 dan yang terbaru 2020 karena covid-19.

Direktur Utama PT Bank BRI Tbk (BBRI) Sunarso secara blakblakan mengungkapkan berbagai perbedaan indikator krisis dari masa ke masa.

Menurutnya pada krisis 1997-1998, Indonesia mengalami krisis berat yang kemudian menjadi krisis multidimensi dan reformasi berbagai aspek. Krisis kawasan ini dipicu oleh Korea Selatan, kemudian menjalar ke Asia Tenggara tepatnya di Thailand dan menular ke Malaysia lalu Indonesia.

Baca Juga: BRI Terapkan WFH 50% di Cabang Zona Merah

Krisis 1998 mencakup area krisis di kawasan Asia. Kala itu kurs nilai tukar Rupiah dalam rentang yang lebar yakni Rp2.500 hingga Rp16.000 per USD (Rupiah melemah 540%), rasio kecukupan modal (CAR) perbankan Indonesia minus 15,7%, dan kredit bermasalah (NPL) 48,6%. Pada 1998, krisis berdampak pada pasar keuangan, ekonomi, dan sosial politik.

Kemudian 10 tahun selanjutnya, pada 2008, terjadi krisis di Indonesia yang titiknya bermula di area Amerika dan Eropa. Kurs nilai tukar kala itu di posisi Rp9.060-Rp10.208 per USD atau tercatat melemah 13%. CAR tercatat 16,8% sementara NPL 3,2%. Dampak yang terasa di pasar keuangan dan tatanan ekonomi.

Baca Juga: Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional, Ini 4 Jurus BI

Sementara, lanjutnya, krisis yang terjadi pada 2020 bukan karena kegagalan ekonomi. "Kali ini penyebabnya berbeda. Krisis ini belum pernah ada, yaitu krisis yang disebabkan oleh wabah dan terjadi menyeluruh di dunia," ungkapnya.

Menurutnya, krisis karena covid-19 membuat kurs terpelanting hingga 12 persen ke level Rp13.800-Rp16.000 per USD. Untuk CAR tercatat 23% dan NPL 2,77%. Krisis 2020 ini berdampak kepada sektor kesehatan, pasar keuangan, ekonomi, UMKM, supply chain dan daya beli masyarakat.

"Sekarang mau ke mana? Krisis sebelumnya ekonomi menurun. Tetapi orang masih bekerja dan berinteraksi. Kali ini disebabkan wabah penyakit. Jadi akan tetap makan tetap konsumsi barang dan jasa, tetapi banyak yang tidak bekerja," tegasnya.

Kendati demikian, tegas Sunarso, dari krisis yang terjadi menempa Indonesia membuat semua tatanan semakin sigap dan tangguh dari segi risk management dan tata kelola.

"Krisis kali ini mengadu kuat setebal apa cadangan, setebal apa celengan tabungan. Itu yang sesungguhnya. Jadi kalau mau selamat harus memperpendek wabah dengan cadangan yang tebal. Persoalannya, jarang-jarang negara bisa dua-duanya, cepat dan cadangan tebal. Kalau cadangan ini enggak cukup dan juga tidak bisa mempercepat wabah, sampai akhir tahun kita bisa makan cadangan," tutupnya. (fbn)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini