Bukan Vaksin, Kalung Antivirus Sebagai Bukti Penanganan Covid-19

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 05 Juli 2020 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 05 320 2241394 bukan-vaksin-kalung-antivirus-sebagai-bukti-penanganan-covid-19-rKcwUYcLDL.jpg Mentan Syahrul Yasin Limpo Pakai Kalung Anti Corona. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan mengembangkan produk yang menggunakan eucalyptus atau minyak kayu putih yang bisa dijadikan sebagai anti virus corona. Pengembangan ini pun sebagai upaya pemerintah selama vaksin Covid-19 belum ditemukan.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry mengatakan, hingga saat ini banyak negara berlomba-lomba menemukan antivirus corona, begitupun di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terus mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19) yang masih mewabah di Indonesia.

Baca Juga: Produksi Kalung Anti Corona, Kementan Gandeng Produsen Anak Bangsa

"Ini (kalung antivirus) bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan, paling tidak ini bagian dari upaya kita. Minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi,” ujar Fadjry, dalam keterangannya, Minggu (5/7/2020).

Dia mengatakan, eucalyptus selama ini dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.

Baca Juga: Kalung Anti Virus Corona Diproduksi Bulan Depan, Minyak Roll On Atsiri Kapan?

Menurut Fadjry minyak atsiri eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Dia menjelaskan laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner. Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitan sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

"Setelah kita uji ternyata Eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus," ujarnya

Dalam berbagai studi dikatakan, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi 1% saja sudah cukup membunuh virus 80-100%.

Bahan aktif utamanya, terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona.

Penelitian menunjukkan Eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini