Puluhan Tahun 'Puasa', Ternyata Ini Tantangan Membangun Kilang Minyak

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 320 2242090 puluhan-tahun-puasa-ternyata-ini-tantangan-membangun-kilang-minyak-LVj105fHMF.jpg Tantangan Mengembangkan Proyek Kilang Migas. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) melanjutkan proyek kilang yakni beberapa proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Roof Refinery (GRR) dan ditargetkan akan rampung tepat waktu di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Megaproyek kilang tersebut terdiri dari proyek pengembangan kapasitas untuk empat kilang dan pembangunan kilang baru. Setelah sebelumnya Indonesia 'puasa' membangun kilang minyak hingga 30 tahun lamanya.

Baca Juga: Top! Kilang Cilacap Siap Produksi B100 Tahun Depan

Pengembangan kapasitas kilang dilakukan di kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian Balongan, Jawa Barat. Dumai di Riau, dan Balikpapan, Kaltim. Adapun dua kilang baru dibangun di Tuban, Jawa Timur dengan total investasinya USD48 miliar.

"Pembangunan kilang yang sedang dilakukan oleh Pertamina terutama untuk progres konstruksi fisik yang dicapai RDMP Balikpapan yang saat ini sudah mencapai 17,41%. Nantinya kapasitas produksi RDMP Balikpapan akan meningkat menjadi 360 ribu barel dan siap beroperasi pada tahun 2023. Untuk RDMP Cilacap di mana saat ini untuk pekerjaan awal phase II sudah 18.94% dan GRR Tuban untuk landclearing lahan sudah 100% dan restorasi pantai 92.51%," kata Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/7/2020).

Baca Juga: 'Cerai' dengan Aramco, Pertamina Digoda 2 Investor Garap Kilang Cilacap

Menurut Mamit, mega proyek kilang tersebut sesuai dengan visi Pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.

"Ini merupakan satu program strategis yang harus tetap dilanjutkan dalam rangka kemandirian energi Indonesia di mana melalui program ini kapasitas pengolahan kilang kita menjadi 1.8 juta BPD dan produksi fuel menjadi 1.5 juta BPD dari saat ini hanya 600.000 BPD pada tahun 2027. Program RDMP dan GRR ini juga menunjukan keseriusan Pemerintah dan Pertamina dalam mempersiapkan bahan bakar ramah lingkungan dimana produk yang dihasilkan sudah standard EURO V," katanya.

Dengan progress pembangunan yang sudah berjalan seperti Kilang Balikpapan, pihaknya optimis Pertamina akan sanggup menyelesaikan mega proyek tersebut sesuai target yang diberikan oleh Pemerintah.

"Pekerjaan pembangunan kilang baik itu RDMP maupun GRR tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui seperti persoalan keterbatasan lahan, investasi yang besar, profit jangka panjang, kompleksitas perizinan dan yang pasti sulitnya mencari mitra strategis. Pembangunan kilang ini juga harus terintegrasi dengan produk Petrokimia agar semua manfaat dari minyak mentah bisa digunakan," ucapnya.

Mamit juga menyampaikan bahwa komitmen Pertamina dalam proyek pembangunan kilang ini tidak perlu diragukan karena ini adalah amanah dari Pemerintah.

"Agar pembangunan kilang ini sesuai dengan target yang ditetapkan. Kita harus dukung dan kawal pembangunan kilang ini,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan bahwa tingkat kesulitan melakukan ekspansi dan revamping kilang lama jauh lebih tinggi dari pada membangun kilang baru dari lapangan yang masih kosong.

"Membangun kilang baru jauh lebih mudah dari pada melakukan ekspansi dan revamping kilang lama. Karena kalau yang ini untuk mengatur accesibility atau ketercapaian dan constructability atau keterbangunannya jauh lebih sulit," papar Nicke saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI belum lama ini.

Terkait RDMP Balikpapan, dia mengatakan, bahwa desain proyek Kilang yang dikerjakan di Korea dan di Indonesia itu sudah hampir selesai atau sudah mencapai lebih dari 70%. "Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)-nya mencapai 35% dari nilai kontrak tahap pertama yang mencapai USD4 miliar,” ujarnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini