Tren Corona Klaster Perkantoran, Pengusaha Harus Taat Protokoler Kesehatan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 27 Juli 2020 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 320 2252594 tren-corona-klaster-perkantoran-pengusaha-harus-taat-protokoler-kesehatan-gXQ5vJIYMr.jpeg Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Belakangan ini perkantoran menjadi salah satu klaster baru penyebaran virus corona. Diduga hal ini terjadi karena penerapan protokol kesehatan yang tidak dilakukan sebagaimana mestinya baik oleh perusahaan maupun karyawannya.

Dari sisi perusahaan protokol kesehatan yang sering kali tak dilakukan adalah mengenai jam kerja yang seharusnya dibagi 50%-50% setiap harinya. Sementara dari sisi karyawan masih sering berkerumun ketika waktu istirahat.

Baca Juga: Layanan Bus Gratis dari Stasiun Bogor Dikurangi Jadi 50 Bus

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, secara keseluruhan sudah mematuhi protokol kesehatan seperti yang diminta pemerintah. Tak terkecuali yang berkaitan dengan kewajiban agar absensi yang masuk setiap harinya adalah 50%-50%.

“Kalau kami lihat sampai saat ini di daerah perkantoran misalnya kecenderungannya sih masih mereka masih tetap memakai 50%. Cuma kita tidak tahu apakah mungkin ada satu dua ya bisa saja kita enggak mungkin memungkiri itu,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (27/7/2020).

Baca Juga: New Normal, Menag Apresiasi Peran Ibu Dampingi Anak Beribadah

Oleh karena itu lanjut Sarman, dirinya meminta kepada seluruh pengusaha untuk mematuhi protokol kesehatan. Karena jika lalai satu kali saja dampaknya akan sangat besar tak hanya bagi perusahaan tapi bagi perekonomian.

Sebab jika tak patuh pada protokol kesehatan, maka jumlah kasus positif corona akan meningkat lagi. Jika meningkat lagi, maka ada kemungkinan pemerintah akan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lagi.

“Tapi menurut hemat saya ini yang perlu kita tunjukan kesadaran kepada seluruh pengusaha karena apa ? Karena ini adalah dampaknya kepada kita kalau nanti terjadi klaster klaster baru misalnya dan ternyata kurvanya semakin naik siapa yang rugi kan kita bersama,” kata Sarman.

Menurut Sarman, jika sampai PSBB kembali diberlakukan, maka seluruh perusahaan juga akan terkena imbasnya karena kemungkinan akan ditutup kembali. Jika perkantoran dan pusat perbelanjaan dan hiburan ditutup lagi, maka ekonomi akan kembali anjlok.

“Jadi pada kesempatan ini kita berharap ayo kepada pelaku usaha jangan sampai kita lengah untuk tidak melaksanakan dari pada protokol kesehatan. Karena ini merupakan ladang kita dan kebijakan pemerintah jangan sampai merugikan kita mari kita punya komitmen untuk melaksanakan protokol kesehatan dan pastikan kurva penurunan Covid semakin hari semakin menurun,” jelasnya

Di sisi lain lanjut Sarman, dirinya juga meminta kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dengan benar di mana pun berada. Karena di beberapa daerah ditemukan kasus pasien covid-19 yang berasal dari klaster komunitas sepeda.

“Tidak menutup menumbuhkan klaster baru termasuk misalnya kemarin di daerah misalnya bukan di Jakarta terjadi klaster baru dari komunitas sepeda misalnya. Ini kita harapkan juga supaya betul betul juga kalaupun yang punya komunitas sepeda tetap juga mengedepankan protokol kesehatan,” kata Sarman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini