Share

Resesi dan Depresi Ekonomi, Apa Bedanya?

Kunthi Farmar Shandy, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2020 17:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 20 2258122 resesi-dan-depresi-ekonomi-apa-bedanya-j2UuXyX2kX.jpg Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perlambatan perekonomian yang terjadi di triwulan II-2020 menimbulkan tanya, apakah ini menjadi titik terendah atau justru malah menuju kepada situasi yang lebih parah.

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, hampir semua negara saat ini alami perlambatan ekonomi, namun banyak pelajaran berharga bahwa negara yang mampu mengendalikan pandemik, perlambatan ekonominya lebih moderat.

"Ibarat menginjak rem dan gas sama kuat tidak akan membuat mobil berjalan kencang," kata Tauhid saat diskusi online di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Baca Juga: Geber Daya Beli, Ekonomi RI Tumbuh Selamat dari Resesi 

Namun menurut dia, sangat disayangkan karena keseriusan pemerintah dari sisi kesehatan untuk mengatasi pandemi sangat rendah.

Terlihat pada saat masa PSBB diberlakukan, ekonomi Indonesia sudah relatif turun lalu berimplikasi pada Juni 2020 yang minus sampai 5,3%.

"Ketika non PSBB dicabut kami proyeksikan ekonomi kita masih negatif. Artinya apa? Ini menunjukan bahwa kita harus siap dalam skenario resesi," ujar Tauhid.

Baca Juga: Daftar 9 Negara yang Alami Resesi akibat Covid-19 

Dia melanjutkan, jika nanti pada kuartal III atau IV 2020 ekonomi masih negatif maka sesungguhnya Indonesia menuju fase depresi karena pandemi covid juga belum berakhir.

Berdasarkan data, kerugian ekonomi pada kuartal II 2020 sebesar Rp145.64 triliun yoy. "Artinya, kerugian ini besar sekali. Dan bisa berdampak pada jumlah angka pengangguran bahkan kemiskinan bisa melonjak 5-10 juta. Ini konsekuensi yang harus ditanggul. Saya kira pengusaha juga sudah mulai melakukan PHK," ungkap dia.

Maka dari itu, kedisiplinan masyarakat untuk memastikan protokol kesehatan memang merupakan salah satu kunci untuk membuat pemulihan ekonomi nasional bisa optimal. Namun di sisi lain kedisiplinan dan kecepatan implementasi dan penyaluran stimulus pemerintah sangat diperlukan.

Sementara itu, Peneliti Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef Rusli Abdullah mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV akan kembali turun atau minus. Hal ini didasari pada data pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, pertumbuhan ekonomi yang positif itu puncaknya terjadi pada kuartal II. Sedangkan untuk kuartal III dan IV justru akan mengalami penurunan.

"Dalam satu dekade terakhir, puncak pertumbuhan ekonomi itu ada di kuartal II, sedangkan kuartal III dan IV itu turun. Bahkan terkontraksi negatif," kata Rusli.

Dengan kondisi tersebut, dia menilai bahwa pemerintah harus mempunyai kebijakan yang berbeda dengan tahun sebelumnya, apalagi di tengah pademi seperti ini. Sebab, Jika tidak ada perubahan maka Indonesia akan masuk jurang depresi ekonomi.

"Secara tren dari tahun ke tahun kuartal III dan IV itu turun, siklusnya pertumbuhan ekonominya seperti itu. Maka harus ada langkah kebijakan lain dari pemerintah," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini