Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional, OJK Optimalkan Sinergi Kebijakan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 07 Agustus 2020 18:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 20 2258702 dorong-pemulihan-ekonomi-nasional-ojk-optimalkan-sinergi-kebijakan-ojjUJoQU91.jpg Ketua OJK Wimboh Santoso. (Foto: Okezone.com/OJK)

JAKARTA - Penanggulangan dampak ekonomi pandemi covid-19 membutuhkan upaya bersama antara OJK dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Pada periode ini, OJK mengoptimalkan berbagai kebijakan stimulus untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui penguatan peran sektor jasa keuangan.

OJK juga mendukung berbagai kebijakan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Bauran kebijakan ini selain menjaga stabilitas sektor jasa keuangan juga berfungsi menempatkan industri jasa keuangan menjadi katalis dalam menggerakkan roda perekonomian dengan memberikan daya dukung bagi sektor riil.

Adapun kebijakan OJK untuk Pemulihan Ekonomi Nasional di antaranya, restrukturisasi kredit atau pembiayaan yang diatur dalam POJK 11/2020 dan POJK 14/2020 . OJK mencatat hingga 20 Juli 2020, total debitur yang telah mendapat restrukturisasi kredit sebanyak 6,73 Juta debitur dengan nilai sebesar Rp784,36 triliun.

Baca Juga: Komitmen OJK Tingkatkan Perbaikan Sesuai Laporan BPK RI

Restrukturisasi kredit UMKM sebanyak 5,38 juta dengan Rp330,27 triliun. Sedangkan pada perusahaan pembiayaan per 5 Agustus 2020 sebanyak 4,14 juta kontrak restrukturiasi dengan nilai Rp153,6 triliun dan lembaga keuangan mikro per Mei 2020 sebesar Rp9,7 miliar.

OJK juga mencatat melalui kebijakan restrukturisasi berhasil menahan laju kenaikan kredit macet (NPL) dan mengurangi tekanan permodalan sehingga stabilitas sektor jasa keuangan dapat terjaga dengan baik.

Sementara itu,. Otoritas Jasa Keuangan telah menurunkan Batas Minimum Rasio LCR Dan NSFR Menjadi Paling Rendah 85% sampai 31 Maret 2021. Penundaan pemberlakuan standar Basel III: Finalising post-crisis reforms (Basel III reforms) menjadi 1 Januari 2023.

Baca Juga: Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga, OJK Optimalkan Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional

Hal tersebut didukung upaya Bank Indonesia dengan menurunkan Policy Rate BI7DRR turun dari 4.75% menjadi 4.00%, penurunan GWM Rate 200 Bps untuk BUK dan 50Bps untuk BUS/UUS dan pelonggaran likuiditas di antaranya melalui pembelian SBN. Sedangkan Kementerian Keuangan melalui penempatan dana pemerintah di industri perbankan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Kebijakan ini mendorong likuiditas perbankan dalam tren meningkat, indikator Pasar Uang Antar Bank (PUAB) cenderung stabil dan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan tumbuh.

Sementara itu, terkait kolaborasi OJK bersama Kementerian Keuangan dalam Pemulihan Ekonomi Nasional. Di mana pemerintah menempatkan dana pada Himbara dan BPD. OJK menyampaikan informasi profil Bank penerima dana pemerintah ke Kementerian Keuangan.

OJK mengadakan pertemuan dengan industri perbankan dan asosiasi pengusaha (KADIN, HIPMI APINDO) untuk optimalisasi penyaluran kredit. Kemudian, koordinasi dan monitoring penyaluran kredit secara periodik

Tercatat per 22 Juli, penyaluran kredit ke UMKM melalui dana penempatan pemerintah Rp49,7 Triliun dengan 616.974 debitur

Untuk dukungan pelaksanaan subsidi bunga oleh pemerintah, OJK menyusun tata cara subsidi bunga bersama Kementerian Keuangan. OJK mengadakan pertemuan dengan industri perbankan dalam melakukan sosialisasi tata cara subsidi bunga

Penyampaian informasi kepada Kementerian keuangan seperti calon profil bank peserta dan calon debitur penerima subsidi bunga. Adapun realisasi subsidi bunga oleh pemerintah KUR sebesar Rp167,2 miliar dan Non KUR Rp191,2 miliar.

Dalam memberi dukungan pelaksanaan penjaminan kredit UMKM, OJK menyampaikan informasi profil Bank selaku penerima jaminan ke Kementerian Keuangan. Kemudian koordinasi dan monitoring realisasi penjaminan kredit secara periodik. Di mana realisasi penjaminan kredit kepada UMKM 660 debitur dengan nilai penjaminan Rp318,9 miliar

Di tengah pandemi covid-19, Kredit dan DPK perbankan tetap tumbuh positif. Pertumbuhan DPK ditopang oleh pertumbuhan DPK BUKU 4 yang masih tumbuh double digit (11,90% yoy). Pertumbuhan kredit perbankan tumbuh didukung oleh pertumbuhan kredit investasi dan konsumsi.

“Bulan Juli pertumbuhan kredit sudah mulai meningkat dibandingkan Bulan Juni. Bulan Juni merupakan titik terendah. OJK meyakini dengan asumsi penempatan dana pemerintah di Bank Himbara dapat dileverage 3 kali melalui penyaluran kredit dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi lagi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi,” Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dalam keterangannya, Jumat (7/8/2020).

Koordinasi OJK dengan Kementerian Keuangan melalui penempatan dana pemerintah ke Bank Himbara dan BPD yang selanjutnya disalurkan ke UMKM juga menopang pertumbuhan kredit bulan Juni. Selain itu, skema penjaminan kredit UMKM juga mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Sentimen positif di pasar modal sudah mulai terjadi didorong investor domestik. Penghimpunan dana di pasar modal dan NAB Reksa Dana juga meningkat dengan diiringi penambahan emiten baru dibandingkan bulan sebelumnya

Arah kebijakan OJK ke depan dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional

OJK akan meningkatkan permintaan masyarakat atas barang dan jasa didukung sektor jasa keuangan melalui penyaluran kredit, penurunan suku bunga kredit serta skema penjaminan kredit. Percepatan government spending agar permintaan kredit meningkat

Dukungan percepatan implementasi stimulus pemerintah (skema penjaminan kredit dari Pemerintah/BUMN, penempatan dana, dan subsidi bunga). Rencana perpanjangan kebijakan restrukturisasi kredit/pembiayaan

Akselerasi Digitalisasi Sektor Jasa Keuangan, menjaga sentimen market positif . Terjaganya likuiditas di industri, stabilitas nilai tukar dan inflasi rendah dan penanganan pandemic covid-19 yang memadai

“Berbagai stimulus yang diberikan pemerintah seperti subsidi bunga, penempatan dana pemerintah di perbankan, serta penjaminan kredit bagi UMKM dan Korporasi merupakan amunisi untuk mendorong sektor riil untuk tumbuh kembali. OJK berharap kepada debitur yang telah direstrukturisasi dapat segera bangkit untuk mendorong pertumbuhan kredit di akhir tahun. OJK bersama perbankan dan pemangku kepentingan lainnya memantau secara detail perkembangan kredit di lapangan dan mengatasi segala kendala di lapangan sesegara mungkin,” ujar Wimboh Santoso. (adv)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini