Cara Menghitung Likuiditas untuk Dana Darurat

Safira Fitri, Jurnalis · Rabu 09 September 2020 22:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 09 622 2274893 cara-menghitung-likuiditas-untuk-dana-darurat-TQGTpIkAkt.jpg Tips Mengatur Keuangan Selama Pandemi Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Dana darurat di tengah pandemi sangatlah penting, guna mengantisipasi hal yang sulit diprediksi saat ini. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah menentukan likuiditas dana darurat.

Hal tersebut bisa dengan memperhitungkan performance atau hasil investasi dari aset dan investasi dibandingkan dengan tingkat inflasi, likuiditas aset, dan utang.

Jika pengaturan aset seseorang kurang baik, sehingga termasuk ke dalam golongan tidak liquid atau tidak memiliki dana tunai yang cukup, maka orang tersebut akan mengalami kesulitan untuk membayar tagihan-tagihan atau kewajiban yang dimilikinya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: 3 Cara Persiapkan Dana Darurat Selama Pandemi Covid-19

Sedangkan, jika terlalu banyak memiliki aset yang likuid, maka aset tersebut tidak bisa memberikan hasil investasi yang diharapkan atau lebih tinggi. Semakin likuid aset yang ditempatkan, maka semakin kecil hasil investasi atau bunganya.

Berikut merupakan perhitungan rasio likuiditas lebih jelas seperti dilansir dari buku Succesful Financial Planner oleh Prof. Dr. Adler H. Manurung, R.F.C., Lutfi T. Rizky, S.E., M.M., R.F.A., Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Pertama, liquid aset per take-home pay (penghasilan bersih). Penghasilan saat ini selalu dijadikan basis atau patokan untuk membayar tagihan saat ini. Aturan pokoknya adalah bahwa likuid aset yang dimiliki harus sebesar nilai penghasilan bersih untuk 6 bulan.

Baca Juga: 4 Manfaat Investasi Forex Trading, Harga Tidak Bisa Dipermainkan

Tersedianya perlindungan seperti ini supaya tagihan dapat dibayar, sekalipun untuk  alasan PHK atau sakit, atau mungkin gaji bulanan yang juga dihentikan.

Sebagai contoh, diasumsikan bahwa aset sebesar Rp50 juta dan penghasilan bersih sebesar Rp20 juta. Begini cara menghitungnya, likuid aset sebesar Rp50 juta dibagi dengan penghasilan bersih Rp20 juta, hasilnya yakni 2,5.

Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa liquid aset hanya cukup untuk menutupi 2,5 bulan penghasilan bersih bulanan. Oleh sebab itu, yang harus dilakukan secepatnya adalah menambah jumlah likuid aset.

Kedua, liquid aset per utang jangka pendek. Dalam perhitungan rasio likuid aset per penghasilan bersih tidak mengikut sertakan utang jangka pendek, sehingga sangat bijaksana untuk juga menghitung rasio likuid aset terhadap utang jangka pendek.

Sebagai contoh, jika likuid aset Rp50 juta dan utang saat ini Rp10 juta, rasio likuidnya yaitu likuid aset Rp50 juta dibagi dengan utang jangkan pendek Rp10 juta, hasilna adalah 2,5.

Rasio ini berarti bahwa untu setiap Rp1.000 utang jangka pendek ada Rp5.000 likuid aset untuk memenuhinya. Semakin tinggi rasio lebih baik. Rasio likuiditas dirancang untuk mengidentifikasi masalah liquiditas, sehingga perbaikan dapat dilakukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini