Kisah 25 Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Asia

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 455 2278118 kisah-25-pebisnis-wanita-paling-berpengaruh-di-asia-YQmOOM9JCY.jpg Wanita Terkaya (Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona membuat sektor bisnis global mengalami gangguan. Kepemimpinan dari para pemimpin perusahaan pun terus diuji untuk bisa survive seperti saat ini.

Ada 25 pemimpin wanita di Asia yang telah berhasil menanganani dan menghadapi tantangan tersebut. Bahkan mereka berhasil menunjukan keberaniannya di masa-masa sulit ini.

 Baca juga: Daftar 25 Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Asia, Ada 2 dari Indonesia

Dari 25, diwakili oleh berbagai macam Industri teknologi dari mulai Bioteknologi, Fintech dan edtech. Kemudian ada juga dari sektor tradisional seperti ritel, logistik dan hukum.

Namun meskipun berbeda, mereka semua masing-masing memiliki rekam jejak kesuksesan baik menjalankan perusahaan dengan pendapatan yang cukup besar atau mendirikan perusahaan rintisan bernilai lebih dari USD1 miliar atau sekitar Rp14,8 triliun (mengacu kurs Rp14.900 per USD). Selain itu, para wanita ini juga memiliki kepemimpinan yang kuat dan visi untuk beradaptasi dengan normal baru dan melihat peluang di mana orang lain melihat tantangan.

 Baca juga: Memanas dengan Bill Gates, Elon Musk: Dia Tak Tahu Apa-Apa soal Truk Listrik

Chairperson HCL Technologies Roshni Nadar Malhorta mengatakan, dalam menghadapi masa depan, harus tetap selalu gesit dan tak cepat puas. Oleh karena itu, dirinya ingin perusahaan tersebut berperilaku seperti perusahaan rintisan.

Nadar Malhotra, 38, yang telah bekerja di HCL selama 12 tahun, sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua selama dua tahun. Terlepas dari beberapa kelemahan dalam bisnis perusahaan karena pandemi, dia optimis dalam jangka panjang karena proses digitalisasi akan menciptakan permintaan akan layanan dan produk yang ditawarkan oleh HCL.

“Ada penekanan yang dipercepat pada teknologi dan bagaimana bisnis akan membutuhkannya sekarang untuk berkembang dan bahkan membedakan diri mereka sendiri. Ada lebih banyak fokus pada digitalisasi dan itu adalah sesuatu yang secara unik telah membuka beberapa peluang,” ujarnya dikutip dari Forbes, Selasa (15/9/2020).

 Baca juga: Miliki Harta Rp3.005 Triliun, Jeff Bezos Sempat Tak Pede Kembangkan Amazon

Pengusaha teknologi sedang naik daun

Daftar tahun ini juga banyak memasuka pengusaha wanita yang membangun perusahaan rintisan teknologi, masing-masing menarik dana ratusan juta dolar, dan bernilai lebih dari USD1 miliar atau Rp14,8 triliun.

Melanie Perkins misalnya, wanita Asal Australia ini merupakan salah satu pendiri Canva saat masih menjadi mahasiswa di University of Western Australia. Sejak itu, perusahaan perangkat lunak desain grafis telah mengumpulkan lebih dari USD300 juta atau Rp4,4 triliun.

 Baca juga: 2 Pertanyaan Bill Gates Jadi Kunci Penyelesaian Masalah, Apa Itu?

Canva telah menjadi menguntungkan pada pertengahan 2017 dan bersaing dengan perusahaan seperti Adobe. Kini tersedia dalam lebih dari 100 bahasa, Canva memiliki lebih dari 700 karyawan dan lebih dari 30 juta pengguna aktif bulanan di 190 negara.

Pengusaha teknologi lain dalam daftar adalah Lucy Yueting Liu. Luci ikut mendirikan Airwallex, sebuah startup fintech senilai hampir USD1,9 miliar atau Rp28,12 triliun. Airwallex telah menarik USD362 juta atau Rp5,3 triliun dalam pendanaan.

Airwallex membantu pelanggan melakukan transaksi lintas mata uang multi-mata uang lebih murah daripada bank. Berkantor pusat di Hong Kong, memiliki 440 staf di kantor-kantor di 10 kota mulai dari Bangalore hingga Tokyo.

Di India, Divya Gokulnath, dan suaminya Byju Raveendran mendirikan perusahaan edtech Byju's, yang menawarkan kursus online untuk siswa K-12. Dengan anak-anak sekolah di India yang terpaksa harus belajar dari rumah, membuag Gokulnath menjadi sibuk.

“Kami telah menambahkan 20 juta siswa hanya dalam empat bulan terakhir,” katanya.

Selain itu, daftar wanita paling berpengaruh di kawasan Asia Pasific tahun ini juga menampilkan para pemimpin luar biasa yang membuat langkah luar biasa dalam peran dan industri yang biasanya didominasi pria.

Pada tahun 2018, Rachel Eng, dari Singapura, bergabung dengan firma layanan profesional global PwC di mana setahun kemudian ia ditunjuk sebagai tim kepemimpinan hukum globalnya. Dia merupakan satu-satunya wanita dalam sembilan tim anggota yang membantu mengawasi 3.600 pengacara jaringan di sekitar 100 negara.

Wanita lain yang memecahkan langit-langit kaca di Singapura adalah Lily Kong, 55 tahun. Presiden kelima Universitas Manajemen Singapura dan wanita pertama yang memimpin salah satu universitas top di negara pulau itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini