Kalap Belanja Online Selama di Rumah Saja, Berikut Cara Mengatasinya

Safira Fitri, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 12:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 622 2277944 kalap-belanja-online-selama-di-rumah-saja-berikut-cara-mengatasinya-2eF063MoZK.jpg Cara Supaya Tidak Kalap Belanja Online Selama di Rumah. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Begitu banyak film yang dapat mengajarkan hal-hal baik pada aspek kehidupan. Misalnya, film Confessions of a Shopaholic yang diperankan Rebecca Bloomwood atau Becky.Dalam film tersebut, Rebecca menjadi gambaran sosok kebanyakan kaum perempuan atau laki-laki yang tidak sanggup mengelola keuangannya akibat hobi retail therapy.

Saat problem keuangan didiamkan, maka dampaknya akan besar pada kehidupan. Pada film tersebut, Rebecca pun sempat kehilangan sahabat baik, calon pasangan, serta citra pekerjaannya lantaran mendapati masalah hutang.

Oleh sebab itu, film ini dapat memberikan poin-poin penting pelajaran mengenai mengelola keuangan sebagai berikut seperti dilansir dari laman Instagram Perencana Keuangan @pritaghozie, Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Pertama, shopping doesn't bring total happiness.

Pada salah satu scene, Rebecca berkata bahwa saat dirinya berbelanja, dunia terasa indah. Namun, lambat laun keindahannya berkurang, hingga akhirnya reality hits hard, utangnya pun bertumpuk.

Baca Juga: 4 Pos Penting dalam Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi Covid-19

Adapun seorang psikolog Roslina Verauli mengatakan, bahwa berbelanja tidak akan menyelesaikan tuntas problema hidup kita.

"Pesanku, jangan mengkaitkan emosi dengan konsumsi," pungkas Prita.

 Kedua, credit cards are not magic card.

 Jebakan kartu kredit dan pinjaman online adalah memberikan kehaluan akan kemampuan membeli. Padahal, akibat belum mampu, makanya meminta bantuan kredit. Memang adakalanya promo kartu kredit bisa membantu, namun syarat yang utama adalah tetap harus bijak dan pintar-pintar menggunakannya.

Baca Juga: Begini Cara Menabung dan Investasi Jelang Resesi

Ketiga, the brand doesn't define you.

"Ayo jujur, pernah gak kita membeli barang karena mereknya semata yang bisa menonjolkan status sosial tertentu? Jujur! Aku suka juga kok membeli barang bermerek dan loyal pada satu merek tertentu. Namun, sebisa mungkin membeli karena suka dan cocok dengan fungsinya." ungkap

Prita.Dirinya pun mengingatkan, bahwa biaya hidup itu murah, sementara biaya pamer itu mahal.

Keempat, are you really valuable?

"They said I was a valued customer. Now they send me hate mail," seperti dikutip dari dialog Rebecca Bloomwood.

 Prita mengatakan, bahwa menjadi klien prioritas atau VVIP bukanlah status permanen. Memang hidup jadi lebih mudah, tapi suatu saat, status tersebut dapat tergantikan dengan yang lain.

Kelima, cost and worth are very different things.

Hal tersebut seperti dikatakan oleh Luke Brandon, yang mengartikan inti dari financial lessons dalam film Confessions of Shopaholic, di mana dalam scene Rebecca cannot afford the scarf priced at USD200, dan akhirnya, scarf tersebut pun dilelang dengan harga USD300 untuk membantu melunasi hutang kartu kreditnya.

 Scarf seharga itu memberikan pelajaran finansial senilai USD10.000, bahwa terjerat hutang tidaklah ada untungnya.

"Menilai mahal atau murah itu bisa beda-beda untuk setiap orang. Tetap berpegang pada kemampuan finansial kita ya." ujar Prita.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini