Jakarta PSBB Lagi, Coba Tengok Lockdown di Melbourne

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 17 September 2020 15:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 17 320 2279384 jakarta-psbb-lagi-coba-tengok-lockdown-di-melbourne-Bx9QPDVl6H.jpg PSBB (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pengetatan kembali PSBB. Hal ini dimulai sejak 14 September 2020.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Izzudin Al Farras Adha mengatakan, contohnya bisa dilihat bagaimana dampak lockdown 2.0 di Melbourne.

 Baca juga: Ekonomi 33 Negara Berkembang Diprediksi Minus, Indonesia Termasuk?

"Selama lockdown 2.0, warga Melbourne yang berdomisili di lingkungan tertentu harus tinggal dan menetapkan physical distancing, tetapi bagian kota yang lainnya tetap buka," ujar Izzudin dalam diskusi online INDEF bertajuk "PSBB DKI dan Banten: Ekonomi Nasional Sembuh atau Lumpuh?" di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Dia menyampaikan, warga hanya boleh keluar rumah untuk kegiatan esensial seperti belanja kebutuhan sehari-hari dan juga untuk keperluan medis. Toko retail tutup, anak-anak sekolah harus belajar dari rumah, restoran hanya boleh pesan antar atau pesan bawa pulang, dan pusat penitipan anak hanya akan tersedia untuk pekerja yang diizinkan.

 Baca juga: OJK Beberkan Tantangan Ekonomi saat Covid-19

"Pekerja yang bekerja di kantor (WFO) pun dibatasi, misalnya proyek konstruksi skala besar dengan lebih dari 3 lantai hanya boleh mempekerjakan pekerja WFO maksimal 25%. Sementara itu, konstruksi skala kecil tidak boleh lebih dari lima pekerja," ungkap Izzudin.

Dalam lockdown 2.0 itu, diberlakukan pula jam malam dari pukul 21.00 hingga 05.00, sehingga pelaku usaha harus menutup bisnisnya. Ada pembatasan mobilitas sejauh 5 KM sejak 9 Juli hingga 13 September. Namun, sejak 14 hingga 28 September, orang yang tinggal sendirian diperbolehkan untuk bertemu satu sama lain dan termasuk dalam aturan mobilitas tersebut.

 Baca juga: Realisasi Anggaran Covid-19, Bansos 59% tapi Kesehatan Baru 18,36%

"Ada beberapa dampak dari lockdown tahap kedua, tapi ternyata tidak sedalam lockdown 1.0. Selama pekan pertama lockdown 1.0, aktivitas toko bahan makanan dan kimia di seluruh Victoria rata-rata turun 19%, namun di lockdown 2.0 ini, hanya turun 7%," ucap Izzudin.

Selain itu, pada lockdown 1.0, aktivitas ritel dan rekreasi Melbourne turun 47% dari level dasar normalnya, sementara di lockdown 2.0, aktivitas itu hanya turun sebesar 32%.

"Kenapa areanya di lockdown? Karena hampir mirip perilaku masyarakatnya hampir mirip dengan di DKI, karena kasusnya tidak kunjung melandai," tutur Izzudin.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini