Dana PEN Rp695 Triliun Tak Bisa Langsung Bikin Ekonomi Pulih

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 17:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 320 2282613 dana-pen-rp695-triliun-tak-bisa-langsung-bikin-ekonomi-pulih-U2xueuLWVA.jpg Dana PEN Belum Bedampak Pada Pemulihan Ekonomi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat realisasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tidak berdampak signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) 2020. Asumsi itu didasari dampak pandemi Covid-19 terhadap kapasitas produksi sejumlah sektor bisnis dan konsumsi masyarakat selama pandemi.

Kapasitas produksi pun berkurang di bawah 100%. Bahkan bisa 50% bila dampak pandemi terjadi dalan kisaran waktu 2-3 tahun ke depannya.

Staf Khusus Menko Perekonomian Reza Yamora Siregar mengatakan, meskipun penyerapan dana PEN sebesar Rp695,2 triliun bisa terealisasi hingga 100%, namun multiplier effect atau dampak dari program stimulus ekonomi bersifat jangka panjang dalam mendorong PDB nasional.

Baca Juga: Dapat Pinjaman ADB, Sri Mulyani: Dukungan Kuat untuk RI

"Kapasitas keyakinan konsumen tetap terjaga. meski uang kita keluarkan besar sekali, biasanya multipliernya atau dampaknya panjang stimulus akan terbatas. Di sini harus kembali diingatkan, meski uang besar sekali spend Rp695 triliun dengan defisit di atas 6% memang dampak terhadap PDB agak terbatas," ujar Reza dalam Webinar, Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Reza mencatat, kondisi ini tidak saja terjadi bagi Indonesia, namun juga berlaku bagi negara-negara di dunia. Khususnya Indonesia, gambaran itu tentu di luar dari proses vaksinasi yang sudah dilakukan pemerintah.

Baca Juga: Pulihkan Ekonomi Asia, ADB Gelontorkan Dana Rp296,7 Triliun

 Artinya, asumsi dampak pandemi Covid-19 terhadap kapasitas produksi sejumlah sektor bisnis dan tingkat konsumsi masyarakat yang membuat pemerintah melakukan penyerapan alokasi anggaran PEN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, serta pengaruhnya pada PDB dalam negeri tidak dilihat dalam pendekatan setelah proses penyuntikan vaksin.

Karenanya, dia berharap agar vaksinasi dapat dilakukan di akhir tahun ini atau awal tahun depan. Dengan begitu, instrument perekonomian nasional berupa konsumsi dan produksi bisa perlahan membaik.

"Ini kami lihat secara globally. Ini akan terus berlangsung sampai kita menemukan, mudah-mudahan menemukan dan mengadakan vaksin Covid-19 di akhir tahun dan awal tahun depan," kata dia.

Tentu, hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa dari outlook Kementerian Keuangan, hampir semua sektor penopang pertumbuhan ekonomi di tahun ini mengalami kontraksi. Hanya konsumsi pemerintah yang tumbuh positif.

Karena itu, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meramal bahwa pada kuartal III 2020 perekonomian Indonesia akan berada di kisaran minus 2,9 persen atau minus 1 persen. Sedangkan untuk sepanjang tahun ini perekonomian juga diprediksi akan tetap minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Hal ini lantaran kontraksi akibat pandemi Covid-19 masih akan berlanjut di semester II tahun ini. Dengan begitu, PDB pada kuartal III akan diprediksi mengalami resesi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini