Menteri ESDM Sebut PLN Tekor Selama Pandemi Covid-19

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 320 2282616 menteri-esdm-sebut-pln-tekor-selama-pandemi-covid-19-96v75duR1Q.jpg Listrik Gratis untuk Industri Kecil yang Gunakan 450 Va. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemenuhan kebutuhan energi listrik selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu sorotan pemerintah. Demi menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan, pemerintah melakukan prinsip 5K, Kecukupan, Keandalan, Keberlanjutan, Keterjangkauan, dan Keadilan dalam mengimplementasikan kebijakan ketenagalistrikan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan, prinsip 5K ini dimaksimalkan dalam menjalankan kebijakan ketenagalistrikan selama pandemi. Di mana kehadiran wabah ini cukup memukul beban keuangan (cashflow) milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) lantaran ketidakseimbangan antara konsumsi dan pendapatan dengan biaya operasional.

Baca Juga: Lagi Tren Main Layangan, Awas Nyangkut di Kabel Listrik Dendanya Rp2,5 Miliar

"Dalam mewujudkan prinsip kecukupan, pemerintah berupaya mengimplementasikan perencanaan kebutuhan listrik nasional, di antaranya memastikan program 35.000 MW dapat berjalan. Pada prinsip keandalan punya keterkaitan erat dengan kualitas penyediaan listrik dengan memanfaatkan teknologi (sensor) pada pembangkit listrik agar lebih efisien," Arifin, Rabu (23/9/2020).

Selanjutnya, Arifin mengungkapkan, keberlanjutan berarti mendorong penggunaan Energi Baru Terbarukan, salah satunya melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Adapun prinsip keterjangkauan, pemerintah akan mengupayakan harga listrik yang kompetitif agar tarif listrik tetap terjangkau oleh masyarakat.

"Terakhir prinsip keadilan dengan mengutamakan pemerataan akses listrik melalui peningkatan rasio elektrifikasi," katanya.

Baca Juga: Jakarta PSBB Total, Pelanggan PLN Kirim Foto Meteran Listrik Lagi?

Arifin menguraikan, pandemi telah menyebabkan penurunan konsumsi listrik pada bulan Juni 2020 minus 7,06% dibandingkan bulan Januari 2020. Rinciannya, terdapat 8 sistem yang mengalami hal tersebut, yakni Sumatera Barat (-7,12%), Sulawesi Selatan Tenggara (-7,68%), Bali (-32,87%), Jawa Timur (-6,33%), Jawa Tengah (-6,28%), Jawa Barat (-10,57%), Banten (-12,82%), dan Distribusi Jakarta Raya & Tangerang (-5,62%).

Dalam paparannya, sektor industri (41%) dan rumah tangga (37,45%) masih menjadi topangan utama dalam mendukung realisasi konsumsi listrik per kapita. Sisanya ditentukan oleh sektor bisnis (15,71%) dan publik (5,84%).

"Pertumbuhan konsumsi listrik secara year on year (yoy) pada periode Juni 2019-Juni 2020 secara nasional masih tumbuh positif sebesar 5,46%," jelasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini