Jangan Takut Investasi saat Resesi, Yuk Pelajari Instrumennya

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 622 2282459 jangan-takut-investasi-saat-resesi-yuk-pelajari-instrumennya-52O2ICjiYS.jpeg Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Ancaman resesi pada perekonomian Indonesia di kuartal II-2020 ini membuat para investor takut untuk berinvestasi. Meskipun sebenarnya investasi masih menjadi salah satu opsi yang menguntungkan jika tujuannya untuk masa depan.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan pada saat situasi ekonomi sedang tidak menentu seperti ini, sebenarnya waktu yang tepat untuk melakukan investasi. Dibandingkan harus lari dari market yang tidak akan membantu apapun baik di masa kini maupun masa depan.

Baca Juga: Tak Percaya, Wanda Kaget Ditransfer Jokowi BLT Rp1,2 Juta

Namun sebelum untuk memulai investasi patutnya harus mempelajari terlebih dahulu tentang instrumen yang diinginkan. Karena jangan sampai niat baik untuk mendapatkan cuan justru akan berakhir buntung.

"Jadi setiap kali krisis apakah mau lari dari market ketakutan atau Anda nyamperin memanfaatkan peluang tapi harus juga ada strateginya," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (23/9/2020).

Lantas instrumen seperti apa yang cocok dan memiliki risiko rendah saat pandemi dan ekonomi yang di ambang resesi ? Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempelajari mengenai instrumen investasi terlebih dahulu.

Baca juga: Jouska Diminta Selesaikan Kasus dengan Nasabahnya

Adapun instrumen investasi sendiri sangat beragam sekali jenisnya. Dari mulai investasi di reksa dana, pasar saham, pasar keuangan, deposito, properti hingga emas batangan atau logam mulia.

Lalu dari masing-masing instrumen investasi tersebut dipelajari juga jenis-jenis risikonya. Bagi investor pemula ada baiknya untuk menginvestasikan uangnya ke instrumen investasi yang memiliki risiko rendah.

Beberapa contoh instrumen investasi dengan risiko rendah seperti reksa dana, deposito hingga logam mulia. Jenis investasi ini memiliki return yang stabil, meskipun angkanya relatif kecil.

Sementara investasi yang sifatnya memiliki risiko tinggi salah satu contohnya adalah pasar saham. Keuntungan yang didapatkan memang lebih besar dibandingkan dengan deposito hingga reksa dana, namun risikonya juga sangat tinggi.

Karena biasanya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergantung pada kondisi di dalam negeri maupun global. Jika ada peristiwa yang menggembirakan, bisa mendongkrak IHSG begitu pun sebaliknya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini