PSBB Jakarta Diperpanjang, Pendapatan Pengusaha Properti Diprediksi Turun

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 25 September 2020 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 470 2283443 psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun-GOeKpW60R9.jpg Rumah (Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona membuat sektor properti terkena dampaknya. Apalagi dengan diberlakukannya kembali kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan sejak PSBB fase pertama, sudah ada perlambatan dan penurunan trafik pengunjung di pusat perbelanjaan. Hal ini juga berdampak pada penurunan penjualan pada sebagian besar toko.

 Baca juga: Industri Properti Lesu, Banyak Masyarakat Tunda Beli Rumah

"Sejak PSBB fase pertama, kami telah melihat perlambatan atau penurunan trafik dari pengunjung pusat perbelanjaan yang berujung pada penurunan penjualan yang mempengaruhi sebagian besar toko," ujarnya kepada Okezone, Jumat (25/9/2020).

Dengan adanya kebijakan PSBB tahap kedua ini, akan menjadi tantangan berikutnya. Karena diperkirakan akan pendapatan toko dari penjualan akan kembali mengalami penurunan.

 Baca juga: BI Prediksi Harga Properti Kuartal III Bakal Anjlok Jadi 1,19%

"Dengan adanya rem darurat dari Pemprov DKI Jakarta, ini bukan kondisi yang ideal bagi industri properti, karena akan terjadi penurunan penjualan dan pendapatan," jelasnya.

Sebenarnya lanjut Ferry, pada masa transisi beberapa waktu lalu, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan memang mulai perlahan naik. Meskipun hal tersebut masih belum bisa menutupi kerugian yang diterima para pelaku usaha pada masa PSBB tahap pertama.

"Ritel merupakan salah satu sektor yang juga cukup terpengaruh sejak awal selama masa transisi, lalu lintas banyak sekali, meski tidak cukup," kata Ferry.

Menurut Ferry, dengan adanya kembali kebijakan PSBB akan semakin membuat sektor ritel ini pulih dengan cepat. Sebab menurutnya, agar suatu pusat perbelanjaan memiliki kinerja yang baik, maka okupansi pengunjungnya harus tinggi agar bisa terjadi proses transaksi.

"Kini dengan PSBB fase kedua, ritel akan kesulitan. Dengan adanya sejumlah ketentuan yang berlaku untuk pusat perbelanjaan atau retail, dapat mempersulit kinerja sektor ini pulih dengan cepat," kata Ferry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini